[Catatan] Monolog Senja

“Nak, tahukah kamu kalau romantis dan puitis menjadi semakin canggih kini? Sama halnya dengan ucapan penyair dahulu bahwa ‘Sepi makin modern’*.

Tak perlu lagi bunga atau syair syahdu. Tak perlu lagi prosesi atau peluh-kesah. Jika kau rindu, cukup ketik saja dan kirimkan. Jika kau ingin lebih menarik, beri sedikit sentuhan grafis. Mudah bukan?

Nak, perihal ubah-mengubah adalah kewajaran. Seperti kata buya, bahwa ‘Perubahan adalah ketetapan yang nyata’**. Entah menjadi lebih baik atau buruk, pilihlah sesukamu.

Mengapa lagi kau tanyakan soal merdeka, Nak? Apakah karena pemikiran paling optimis dari kaum borjuis di eropa sana? Bahwa manusia-lah yang menentukan dirinya sendiri, bertanggungjawab sepenuhnya atas apa yang ia perbuat, bukan karena pengaruh luar*** Begitukah?

Tidakkah engkau letih terus bertanya atas hal yang pasti membuatmu menyerah? Merdekakah pikiranmu di titik penyerahan tersebut, Nak? Dan engkau terlihat lebih banyak bermuram-durja serta mengeluh tak tentu ujung.

Kuberi tahu satu hal, seorang pemikir adalah ia yang menyadari pentingnya untuk tidak dijajah, bahkan sedari di alam pemikirannya. Tapi ia tidak berhenti dalam perenungan. Ia mesti menindak. Agar mereka yang ada di sekitarnya juga tidak dijajah.

Nak, sudah aku katakan bahwa puitis menjadi makin mudah saat ini. Manis kata, kadang menjadi ironi dalam realitas.

Engkau diberi sebuah limit kebebasan. Limit itulah yang paling merdeka, pikirku. Seperti seorang penjaga kubur yang tak mampu menjaga kuburnya sendiri****.

Ada fitrah untuk menyerah. Nak, kini engkau pakailah limit penyerahan itu untuk menjadi bermanfaat. Boleh jadi itu akan menjadi lebih baik untuk diperjuangkan. Sila engkau menentukan keputusan. [bow]

“Ada janji kemerdekaan yang harus dipenuhi. Pun lika-liku yang ditempuh berbeda, apa yang kita harapkan adalah sama. Dirgahayu Indonesia!”

Bandung, 17 Agustus 2013

catatan:

[*] Adaptasi sajak Pesan dari Ayah, karya Joko Pinurbo (2005)

[**] Adaptasi ucapan H.A.M.K.A. dalam Falsafah Hidup

[***] Adaptasi kutipan Jean-Paul Sartre di dalam novel Senja di Jakarta, karya Mochtar Lubis (1963)

[****] Adaptasi sajak Tentang Seorang Penjaga Kubur yang Mati, karya Sapardi Djoko Damono (1964)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s