[Catatan] Jum’at: Khotbah, Koin, dan Dagangan

“Pertanyaannya, apakah ‘menjadi pengemis’ merupakan suatu profesi? Atau ia yang memilih mengemis merupakan golongan fakir miskin yang oleh Negara wajib untuk dipelihara? Dipelihara!”

Adalah jum’at kedua dalam hidup saya dimana khatib tidak hadir memenuhi request dari pihak DKM – di mushola yang sama. Beberapa detik suasana dalam rumah Tuhan itu menjadi kikuk. Sampai seorang pengurus DKM mengambil pengeras suara dan mengumumkan ketidakhadiran sang imam. Salah satu jamaah akhirnya naik ke atas mimbar, menjadi khatib tengah hari itu.

Di luar, pedagang cilok, pedagang bajigur, dan satu-dua pengemis menunggu…

Ada satu hal yang membekas dalam ingatan saya, sesaat ketika pengumuman absennya sang khatib. Tampak raut wajah penuh harap dari beberapa orang yang saling menoleh. Saling mengamati satu sama lain, seolah hendak mengatakan “Ayo, Pak! Mas! Silakan maju jadi khatib, saya merasa belum sanggup.” Kekikukan inilah yang terjadi untuk beberapa saat lamanya. Pada jum’at pertama kondisinya tidak lebih baik. Pengamatan saya, jumlah jamaah yang menggunakan atribut Islam saat itu jauh lebih banyak. Mereka memakai sorban, memelihara jenggot, dan tampak komat-kamit memuji Tuhan. Tapi, pun satu orang tiada yang memutuskan untuk maju menggantikan khatib yang absen itu. Sampai akhirnya, salah seorang maju menuju mimbar khutbah. Dengan sedikit bujuk rayu dari pengurus DKM, tentunya.

Apakah pedagang cilok mengikuti sholat jumat? Ibu pengemis masih menunggu…

Pun sejatinya saya masih punya ‘pisau’ analisis dalam otak ini, namun belumlah dirasa mapan untuk mengupas realitas perihal jamaah yang tidak satu ini. Ada imam dan tentunya ada jemaah yang mengikuti pada suatu jumat itu. Yakin dalam ingatan saya, jamaah tidaklah serapi dan seteratur yang dihimbau oleh imam sesaat sebelum takbir memulai sholat dilantangkan. Dengan jelas saya amati bahwa tidak satu-dua-tiga orang yang terpisah dari shaf (barisan) sholat berjemaah. Dan menarik pula untuk kemudian dipertanyakan, bahwa beberapa pedagang memilih lokasi sholat tepat di sebelah dagangannya – membuat shaf yang baru. Apa yang memotivasi mereka untuk melakukan hal demikian? Tidakkah mereka melihat bahwa masih banyak shaf yang mesti diisi – dengan jasad dan ruh tentunya. Mereka yang tengah berdagang adalah mereka yang juga senantiasa berupaya mengingat Tuhan. Mereka pun diserukan dalam sastra tertinggi yang pernah ada di bumi dan langit ini – kalam Illahi.

Dua salam berakhir, jemaah keluar, ibu pengemis dalam posisi menunggu, lalu…

Entah milik siapa koin pertama yang tertampung dalam bejana kecil tersebut, saya tidak pernah tahu pasti. Karena terkadang saya tidak mempertanyakan hal-hal yang tidak ingin saya tahu jawabnya. Kendatipun pertanyaan akan membuka tabir pengetahuan, tidaklah terlalu perlu kala itu saya buat ribet. Koin-koin berikutnya menyusul. Tidak jarang pula lembar-demi-lembar rupiah ditaruh pada gelas kecil itu. Koin menjadi lebih menarik. Ia lebih tegas memberikan bunyi-bunyian ketika saling bertubrukan dibandingkan lembar kertas tersebut. Lebih riang. Tapi wajah ibu yang mulai bergerilya diantara manusia-manusia berjenggot itu tidak memperlihatkan keriangan pada gerak dan paras – cenderung mengiba. Padahal tidak sedikit koin yang telah berada di dalam gelas miliknya. Yang sesekali ia masukkan ke dalam tas slempang buatannya, manakala koin hampir meluber keluar gelas. Sayang sekali ibu itu tidak seriang koin yang ada di genggamannya. Apakah karena bocah dalam gendongannya?

Apa yang bisa kita pertanyakan atas kondisi ini?

Dari titik ini sejujurnya saya mampu membahas banyak kisah. Apakah saya akan mengembangkan cerita dari sudut pandang jamaah yang seolah enggan menggantikan khatib atau mempertanyakan pada diri sendiri mengapa saya yang tidak maju, itu bisa saja. Atau saya akan menceritakan panjang lebar tentang koin si-ibu atau dagangan si-jemaah, itu pun sah-sah saja. Tapi semua tidak saya lakukan. Karena sepintas realitas yang saya sampaikan lebih mengundang tanya dibandingkan jawaban tegas. Bagaimana kemudian saya kembali mempertanyakan realitas dalam tulisan ini, dan mencari tahu jawabnya, itu terserah saja. Mereka yang membaca pun punya hak atas semua tanya. Silakan anda yang menentukan kisah selanjutnya.

Saya melihat dengan dua mata di kepala, lantas mempertanyakan dengan satu mata di hati.

 

Bandung, 30 Juni 2013

@triwibowohari

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s