[Cerita] Anomali

“Terkadang saya sangat iri dengan orang yang begitu gampang menceritakan romansa hidupnya pada media tulis – konvensional ataupun modern. Begitu lihai jejari mereka menorehkan satu per satu kata yang diuntai dalam diam. Seringkali dingin dan penuh makna.”

Menjelang tengah malam, saya masih terduduk di pojok kursi sebuah kedai. Dirintis oleh kawan semasa kuliah dahulu, kedai ini lahir dengan idealisme dan kegamangan masa depan. Tanpa pengalaman tanpa gelar sarjana ekonomi, kedai ini mulai beroperasi enam bulan lalu. Saya terlibat sebagai satu dari lima orang yang sudah barang tentu perlu diminta pertanggungjawabannya atas kehadiran kedai ini. Kendali operasional ada di tangan saya bulan ini. Entah sampai kapan. Pun saya bimbang jikalau ada tanya.

Sudah dua bulan saya resmi jadi pengangguran. Pengangguran? Kamus negeri ini memaknainya sebagai suatu kondisi menganggur. Yang bahkan kata berimbuhan tersebut (menganggur) tidak berkaitan dengan kata pengangguran. Menganggur merupakan kegiatan mengerat batang untuk ditanam. Sebuah terminologi yang dalam bidang biologi jaman sekolah menengah dahulu dikenal dengan sebutan setek (stek). Pakai saja kata penganggur – kata benda, untuk mereka yang tidak melakukan apa-apa. Teringat seorang kawan yang berucap tadi pagi bahwa saya bukan seorang penganggur. Tapi seorang pengelana – dalam hemat saya termaknai sebagai seorang pelarian yang ‘terpaksa’ menjalankan skenario di dunia jual-beli. Secara de facto memang bukan penganggur. Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengisi setiap detik hidup ini. Tapi masyarakat akan lebih peduli dengan status de jure, pikir saya. Hitam di atas putih atas suatu pekerjaan yang jelas. Lantas apa? Serta merta saya pun bisa mengurus surat-surat ataupun kartu pengenal yang akan mencantumkan pekerjaan ‘menganggur’ tersebut. Tidak perlu saya ikuti kehendak masyarakat yang menurut pandangan Menteri Keuangan saat ini (ketika belum jadi menteri) cenderung menjadi kelas konsumen baru. Peralihan motivasi individu dari kebutuhan menjadi keinginan. Bahwa status dan pengakuan sosial adalah hal yang penting. Setidaknya realitas seringkali membenarkan.

Saya memilih menghambakan diri dihadapan Dzat saja. Tapi tidak menampik perlunya usaha untuk tidak ditindas manusia lainnya. Tidak ditindas birokrasi pula. Terlalu sering birokrasi menyulitkan kehidupan, walau tidak jarang pula membantu. Teringat saya pada catatan Goenawan Mohammad di rubrik Caping-nya, perihal ‘Terminal’. Sebuah metafora tentang ‘membedakan manusia dan warga negara’. Bagaimana manusia mampu hidup tanpa pengakuan terhadap status kewarganegaraan. Tapi nafas untuk terus melanjutkan hidup adalah hak prerogatif Sang Hyang. Sekalipun tidak ada tanah untuk berlabuh – untuk mendapat kesempatan seperti kelas ‘menengah’. Kekuatan manusia yang satu telah mengubur hak manusia lainnya. Hukum rimba dimanifestasikan dalam ayat dan pasal. Tertindas?! Boleh jadi.

Ada apa hari ini? Saya membaca sebuah kisah dari seorang jurnalis (juga penulis), Laila S. Chudori. Buku tersebut berjudul ‘Pulang’. Dua hari membaca dan saya hampir meng-khatam-kan buku tersebut. Berkisah tentang para Tahanan Politik (Tapol) masa Orde Baru – lebih tepatnya satu tokoh ‘paling utama’ – yang merindukan Tanah Air-nya. Di penjara di luar domain asalnya oleh supremasi hukum yang direkayasa. Si-tokoh utama tidak dapat ‘pulang’ karena telah ditorehkan sebuah cap imajiner tepat di dahinya – malpraktik sejarah, sebuah kecelakan ter-skenario.

Ada apa hari ini? Hari ini HMS ITB berulangtahun yang ke-59. Cukup tua. Kecenderungan usia dimana para profesional mencapai fase paling puncak dalam karir mereka – untuk kemudian terjun, istirahat, ngobrol di beranda sembari menyeruput secangkir apple tea atau chamomile. HMS merupakan ‘singkatan’ dari Himpunan Mahasiswa Sipil. Adanya ‘singkatan’ ITB mencerminkan bahwa perkumpulan tersebut berada di bawah naungan sebuah institusi pendidikan formal yang dahulunya sempat riuh dengan peristiwa pembersihan kampus (NKK-BKK), tawuran mahasiswa vs aparat kepolisian, ataupun aksi demonstrasi kehadiran Thatcher pada April 1985 di kampus tersebut. Lagi-lagi saya teringat tulisan GM dalam Caping-nya.

Sengaja saya duduk di luar, menggamit ukulele, mencoba memainkan beberapa kord, gagal merangkai harmonisasi nada. Rian – seorang waiter di kedai ini – berada tepat di hadapan saya. Menjelang tutup, saya dengarkan keluh kesah dari makhluk satu ini. Orang yang selama ini telah membantu tumbuh kembang kedai tempat saya bernaung. Tanpa Rian, sepertinya skenario Tuhan akan berbeda. Pemuda yang mengaku berusia 19 tahun ini – ia selalu meyakinkan orang yang bertanya tentang keabsahan usianya dengan memperlihatkan Akte Kelahiran yang dibawa kemana-mana – cukuplah cerdas menurut saya. Seorang pembelajar, pekerja keras, humoris, tapi durability-nya tidak cukup mantap – tidak seperti baterai asal Jepang yang tahan lama dan bisa di-charge. Seringkali Rian memberi saran ataupun gagasan mengenai pengembangan kedai ini ke depannya. Seolah-olah ia adalah sang empu bisnis. Membuat kesal memang, terkadang. Sepertinya wajar ditampilkan oleh orang yang telah nyaris setengah tahun ‘mengabdi’ di kedai seperti ini. Namun, semangatnya untuk terus berkarya membuat saya selalu hati-hati dalam bersikap. Ia adalah aset. Dengan kemuliaan ‘tak-benda’ yang dimilikinya, mungkin saja bisa diajukan ke UNESCO. Seringkali pelanggan mempertanyakan dari mana makhluk ini berasal. Bagaimana ia dengan pembawaannya yang ramah dan ‘konyol’ senantiasa mengundang tawa dan tanya dari pengunjung. Saya orang yang percaya Tuhan. Entah mengapa saya yakin Tuhan telah menetapkan skenario masa depan yang ‘luar biasa’ untuk orang satu ini. Entah apa. Saya niatkan untuk ‘membimbing’ Rian menjadi lebih dari saat ini. Menjadi manusia yang berdaya juang tinggi, belajar dan berusaha. Tak perlu pendidikan formal untuk menjadi piawai dalam kasus ini. Semangat juang yang dimiliki Ekalaya – sang pemanah sejati, yang mampu mengalahkan kesaktian memanah Arjuna  dalam kisah Mahabharata – adalah metafora yang tepat menurut saya. Tentunya tanpa memotong ibu jari seperti yang dilakukan Ekalaya atas kepatuhannya terhadap sang Guru, Resi Dorna. Novel ‘Pulang’ membuat saya mengutip banyak hal darinya, termasuk si-Ekalaya ini.

Lewat tengah malam. Sudah di penghujung bulan. Besok adalah Juni. Dua bulan sudah saya luntang lantung menjadi ‘pengelana’. Saya akui belum saatnya untuk berlabuh. Masih luas lautan yang perlu diarungi. Belum banyak hempasan ombak yang menjadikan seorang pelaut handal dan tangguh. Bagaimana saya harus meneruskan skenario ini? Tuhan telah menyiapkan segalanya, tinggal saya yang jalankan. Obsesi berkutat di bidang media massa, hasrat untuk melanjutkan pendidikan formal, impian untuk mengembangkan kedai, dan memboyong orangtua ke tanah Jawa, semua bercampur dalam hati dan pikiran. Berkecamuk, bergejolak, amburadul, entah kosakata apa yang tepat untuk mengutarakan hal tersebut. Saya ingin pulang, tapi rantau ini belum saya menangkan. Tunggu saya ibu, bapak – beri waktu sedikit lagi. Dan saya akan pulang. Karena pulang adalah tujuan. Sebuah pelabuhan, entah sementara entah selamanya. Biar Tuhan yang tentukan.

Bandung, 30 Mei 2013

3 thoughts on “[Cerita] Anomali

  1. Pingback: It has been and will always be my home | rhedorasta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s