[Cerita] Pak Encup

” Bade kamana*, mas Bowo? Mau hujan sebentar lagi…”, sahut seorang tua berseragam oranye terang. *mau kemana

” Jalan-jalan sebentar, Pak. Mau cari ‘kehidupan’. Hihi”, jawab saya – yang konon adalah teman dari si bapak tua.

Cuplikan percakapan super singkat di atas adalah salah satu dari sekian percakapan yang kalaulah dikumpulkan bisa menjadi satu kitab tersendiri. Namanya pak Encup. Entah siapa nama lengkapnya, entah kapan lahir dan dimana, saya tidak tanyakan pada beliau. Perawakannya sudah ‘uzur’, cukup tertatih-tatih ketika berjalan. Kalau beliau sedang tertawa, tampaklah pemandangan sehamparan email gigi yang sudah rapuh. Wajar. Ia berseragam lengkap – termasuk topi, peluit, dan sepatu kets. Beliau menjabat sebagai salah seorang pengatur manuver mobil dan motor di salah satu sisi jalan Dago. Tukang parkir, kalau bahasa praktisnya.

Entah pengaruh kafein atau glutamat, secangkir Drippuccino siang itu menginspirasi saya untuk menulis tentang Pak Encup. Si Tua Sahaja Berseragam Oranye Menyala. Beliau itu sehari-hari ‘nongkrong’nya di depan sebuah kedai nasi di bilangan Jalan Ir. H. Djuanda, Bandung. Sebut saja kedai itu bernama Kantin Dago (memang nama sebenarnya). Waktu tanya-tanya, beliau ternyata tinggal di belakang kantin. Tidak tepat di belakang persis, tapi ya di belakang. Apa menariknya si bapak ini? Sepertinya sama saja dengan petugas parkir lainnya. Begitu, bukan?!

Karena pembaca sekalian tidak kenal siapa pak Encup, biarlah saya yang jadi orang sok tahu yang akan menceritakan sedikit hal tentang beliau. Kalaulah kita sedang memarkir kendaraan, sangatlah wajar untuk diminta uang parkir oleh si-petugas. Tapi tidak dengan saya. Selama mengenal si Pak Encup ini, saya baru bayar parkir 2 x sahaja. Hmm! Jadi masalahkah? Mungkin. Tapi harus bagaimana saya katakan bahwa setiap kali hendak dibayar, beliau tiada mau menerima uang yang diberikan oleh seorang penulis amatir macam saya ini. Pikir saya, adalah karena suatu ketika saya memberikan beliau satu ‘teapot’ chamomile tea dikala beliau sedang santai, boleh jadi menyebabkan beliau merasa enggan menerima seribu dua ribu rupiah dari kantong ini. Ah, moralisme dalam birokrasi!

Jadi, Pak Encup ini mangkal dari pagi hingga menjelang petang. Beliau akan terlihat kewalahan ketika jam makan siang. Dan belum tentu beliau ikut makan siang seperti orang-orang berseragam rapi di kedai nasi tempat ia bertugas. Bisa dibayangkan, pukul 12 siang, di kala anak sekolahan keluar (entah mau pulang atau mau main), orang kantoran mencari makan siang, dan makhluk lain juga mencari-cari alasan keluar pada waktu tersebut, jalanan di Dago – tempat beliau bertugas – bisa dijajah oleh pengendara roda empat hingga menghabiskan 2 lajur jalan. Woi, bikin macet!

Dan tahukah kita apa yang dilakukan Pak Encup?

Bukan, bukan! Beliau bukan duduk tenang di bawah pohon jambu yang memang tumbuh di depan kedai, sembari menyeruput teh rasa mawar. Beliau yang tadi saya bilang berjalan cukup tertatih, mencoba mengatur lalu lintas. Bayangkan! -mencoba-mengatur-lalulintas! Beliau hendak menyaingi petugas kepolisian urusan lalu lintas! Jumawa! Lalu pertanyaannya, bagaimana beliau mengatur? Entahlah.

Sepengamatan di lapangan, beliau tengah mengupayakan terwujudnya lalu lintas jalan Dago yang lancar, damai, sejahtera melalui bunyi-bunyian dari peluit usang miliknya. Dan juga dengan lambaian tangan seolah mengisyaratkan pada pengendara bermotor (roda 2 dan 4): “Oh, kawan! Tolonglah! Saya ini sudah tua, jangan rewel pula kalau berkendara, ikuti saja lajur kendaraan kalian! Jangan siap-menyiap ditengah keramaian lalu lintas ini! Sudah! Jalan kaki saja sana!”

Hmm. Selamat berjuang Pak Encup! Ingat Pak! Tarif parkir di Bandung itu rata-rata 500-1000 rupiah untuk roda dua. Entah berapa rupiah yang harus engkau setor kepada vrijeman-vrijeman kota ini. Di hari tua mu, semestinya engkau cukup stay tune di rumah sahaja. Atau sesekali bolehlah engkau berkegiatan sosial, mengajarkan anak kecil mengaji, memperbaiki pagar masjid, berkebun, atau baca koran dan minum kopi di beranda. Tapi, engkau memilih skenario yang berbeda! Apa pulak maumu, pak?! Pastinya, doaku menyertaimu. Semoga kita selalu belajar dan memberi manfaat bagi orang banyak. Amin!

Bandung, 27 April 2013

3 thoughts on “[Cerita] Pak Encup

  1. nah kan. awak sudah punya firasat bapak ini memang beda, da. kesempatan yang lalu awak ke “kadai” awak beri dua ribu, malah menolak. beliau bilang tarifnya cuma seribu. mana ada di zaman sekarang manusia macam itu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s