[Catatan] Rantau dan Penaklukan

Di dalam kisah Majapahit, disebutkan bahwa suatu ketika kerajaan tersebut melakukan ekspedisi untuk menaklukan sumatera (Hadler, 2008). Dengan membawa ratusan kapal beserta muatannya yang terdiri dari tentara, patih, hulubalang, dan seekor kerbau raksasa, tim ekspedisi ini sampai di negeri Pariangan – daerah yang menurut tambo Minangkabau merupakan nagari asal orang Minangkabau. Hal menarik dari misi ekspedisi ini adalah bahwa orang Jawa (Majapahit) tidak melakukan pertempuran secara frontal, melainkan dengan cara simbolis. Entah ini merupakan usul dari pihak yang hendak ditaklukan atau sebaliknya.  Awalnya, kisah tersebut di atas dianggap sebagai ‘cerita karangan’ yang dibuat oleh dewan pariwisata era kolonial untuk mempromosikan wilayah Sumatera Barat (Hadler, 2008). Akan tetapi, sebuah catatan tentang Hikayat Raja-Raja Pasai telah menceritakan kisah tersebut jauh sebelum kolonialisme menancapkan akarnya ke ranah Minangkabau. Catatan tersebut menceritakan berbagai peristiwa di Sumatera tahun 1290 dan 1400. Dimulai dari masuknya pengaruh islam ke wilayah kekuasaan Samudra-Pasai hingga ekspansi kerajaan Majapahit di kawasan tersebut.

Merujuk pada kata penaklukan (noun) yang berarti merupakan suatu proses untuk mengalahkan sesuatu yang menjadi objek/target – dengan harapan hasil kemenangan – banyak hal yang terjadi dalam kehidupan ini pun didasarkan atas keinginan untuk ‘menang’ atau menaklukan. Setidaknya, bagi orang Minang, yang pada tahun 1970 sekitar 44 persen penduduknya berada di wilayah rantau, pesan untuk menaklukan rantau telah menjadi pedoman yang senantiasa dipegang. Wajar, ketika banyak perantau asal Minangkabau jarang berkunjung kembali ke kampung halamannya, dengan indikasi ‘belum tertaklukannya’ rantau yang bertuah.  Sekalipun Naim (1979) dalam disertasinya menyebutkan bahwa seringkali rantau hanya menjadi ‘kediaman’ temporer bagi para perantau asal Minangkabau, tetap saja terdapat banyak fenomena di masyarakat yang memperlihatkan kondisi perantau yang lebih memilih untuk menetap ‘selamanya’ di luar batas budayanya.

Menarik apabila sebuah tilik atas pertanyaan apakah dalam setiap penaklukan harus ada yang kalah dan menang dijadikan bahan pembicaraan. Sebut saja kisah para perantau yang mencoba menaklukan daerah rantaunya. Apakah ia pada akhirnya menjadi seorang pemenang atas ‘tanah jajahannya’? Dalam bentuk apa? Perspektif awam kekinian akan menyebutkan, ‘sukses di rantau merupakan wujud dari penaklukan atas daerah yang ditempatinya’. Dan ini merupakan tinjauan kualitatif dimana parameter kesuksesan akan bersifat interpersonal – sulit untuk disama-ratakan. Lantas, siapa yang menjadi kalah? Apakah rantau yang telah takluk menurut para penakluknya, bisa disimbolkan sebagai bentuk kekalahan?

Bahwa penaklukan sebagai suatu proses yang merujuk pada hasil menang-kalah, perlu ditinjau dalam perspektif dua objek (minimal) yang sebanding. Ibarat kata hubung ‘dan’, harus ada dua kata yang memiliki strata yang sama. Demikian halnya untuk pemaknaan terhadap kata penaklukan. Setidaknya ada dua objek yang setara dalam proses ‘takluk-menakluk’ ini. Sang Penakluk dan yang Ditaklukan harus merupakan dua hal yang sebanding. Dalam contoh merantau, apabila si-perantau merupakan penakluk, maka objek manakah yang akan ditaklukan? Jika jawabannya adalah rantau, secara tata bahasa keduanya memiliki kekuatan yang setara – sama-sama menjadi kata benda. Namun, jika jawaban ini pahami dari segi pemaknaan, adakah setara antara perantau sebagai penakluk dengan wilayah rantau sebagai yang akan ditaklukan? Hematnya, pemahaman akan rantau yang menurut Winstedt memiliki arti sebagai daerah rendah, daerah di sekitar aliran sungai, atau daerah di tepian pesisir, tidak dapat serta merta disandingkan dengan pemaknaan terhadap kata ‘takluk’. Posisi rantau sebagai sesuatu yang ‘natural’, tidaklah layak dianggap sebagai sesuatu yang dapat ditaklukan. Hal yang sebetulnya dilakukan oleh perantau adalah menyesuaian hidupnya dengan daerah rantau sehingga mampu hidup berdampingan dengan tempat ia ‘melakukan penaklukan’ tersebut. Bukankah telah disebutkan pula oleh Navis (1984) mengenai falsafah hidup orang Minangkabau – masyarakat yang terkenal dengan aktivitas merantaunya – yang memiliki karakter berwawasan terbuka, mampu beradaptasi dengan lingkungan, dan memegang teguh harga diri. Bukankah hal ini seringkali diidentifikasi sebagai modal para perantau dalam ‘menaklukan’ daerah tujuannya. Dan semestinya, modal tersebut bukan lagi dipahami sebagai amunisi untuk menjadi penakluk di wilayah rantau. Akan tetapi, falsafah tersebut harus dimaknai sebagai prinsip hidup untuk menjadikan pemenang dalam arti mampu hidup berdampingan dengan lingkungan alam dan sosial (rantau).

Kini, bagaimanakah kondisi kita dalam dinamika perantauan ini? Sudahkah kita menjadi pemenang atas tuah yang disimpan oleh rantau? Atau persepsi menjadi penakluk masih tertanam dalam hati dan pikiran ini? Kita yang tentukan. Ketidakpastian adalah hal yang pasti dan perubahan adalah wajar untuk sesuatu yang rasional. Dengan begitu manusia bersyukur atas mandat Tuhan.

Penulis.

Bandung, 13 April 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s