[Catatan] Kawan, Cokelat, dan Hujan

Menjelang petang, mendung masih bergelantung di langit.

Tangis siapa yang akan pecah?

Seorang teman lama datang berkunjung, ke sebuah kedai kecil. Memulai percakapan atas sebuah tulisan perihal kebahagian. Terkadang bingung dengan beragam tulisan populer yang membahas motivasi diri, psikologi, manajemen diri, kebahagian, dan lainnya. Salahkah? Tentu tidak, kawan. Ini hanya masalah prinsip. Jikalau sugesti dari para penulis tersebut mampu menegakkan kembali hati yang tertunduk ‘kalah’, bolehlah kita bicarakan lebih jauh lagi.

Dan hujan pun turun.

Hujan di bulan Maret, di tempat yang tiada lagi mengenal penghujan dan kemarau. Hujan yang tak mengenal dendam. Hanya dingin dan sendu. Tapi secangkir cokelat panas di atas petak kayu mampu menggodamu, bukan? Menemani gerombolan rintik hujan yang mendamaikan bumi – yang mampu membangkit kenangan masa lalu kawan ini. Lalu diam dan tersenyum mengamati tiap tetes yang jatuh dari langit. Hujan dan Cokelat telah memulai pertemanannya.

Masa kritis, karena petang datang.

Saatnya untuk pulang, mengatur skenario yang terkadang terdengar ambius. Bahkan Tuhan pun menertawakan. Tapi tiada mengapa, tentu. Seorang kawan yang tengah menikmati hujan dan cokelat adalah bagian dari kabar Langit. Yang diceritakan pada sore menjelang malam di persinggahan bertajuk kota Kembang – bumi pada Dewa. Lalu biarkan kita menikmati hidup yang tidak sekali ini.

 

Bandung, 9 Maret 2013

beberapa detik menjelang tengah malam.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s