[Catatan] Perihal Kata

Karl may melalui bukunya Kara Ben Nemsi menegaskan sebuah penggalan percakapan seorang penjelajah,

“Dunia ini milik mereka yang berani, dan Kurdistan bagian dari dunia itu…”

Kapan dan dimana pun berada, bolehlah prinsip ini berdaya guna. Dan sudut pandang perihal keberanian menjadi sangat beragam dengan vektornya masing-masing. Boleh jadi, keberanian hadir atas ketidakberanian. Atau keberanian datang dari manusia yang berupaya menjelaskan suatu fenomena ‘ke-digdaya-an’-nya. Lantas, bagaimana eksistensi keberanian dalam tiap pribadi manusia? Tentu pada titik ini ragam jawaban sudah menjadi suatu kemungkinan pasti.

Seperti halnya mereka yang menulis. Mencoba peruntungan dalam keberanian berpendapat, mengajukan klaim, beradu teori ilmiah, atau sekedar mengisi waktu habisnya secangkir kopi panas. Bapak bangsa ini, Soekarno – dengan segenap intervensi dan gagasan murninya, telah bertindak berani untuk ‘memerdekakan’ negara ini. Atau penggalan kisah-kisah milik Rosihan Anwar dalam tulisannya ‘Petite Histoire Indonesia’. Orang-orang ini telah berani unjuk gigi. Atas dasar motivasi pribadi ataupun sokongan dari berbagai lini.

Dan keberanian dalam diri sesorang tentu tidak pula harus dibatasi oleh usia dan gender. Nawal el-Saadawi yang merupakan seorang penulis feminis asal Mesir, pernah menulis sebuah kisah nyata yang sempat dianggap ‘berbahaya’ – baik untuk dirinya dan masyarakatnya. Namun, keberaniannya berbuah reputasi internasional dan inspirasi bagi sekian banyak orang lainnya. Pun negara ini memiliki orang-orang berani, sekaliber Cut Nyak Dien, Rohana Kudus, Dewi Sartika, ataupun Martha Christina Tiahahu. Semua dengan gaya beraninya masing-masing.

Lalu, terjawabkah esensi dari keberanian tersebut? Keberanian yang abstrak dan mampu mengubah banyak hal. Bersumber dari naluri untuk bertahan, memperjuangkan hal-hal, atau menaklukkan seseorang lainnya. Keberanian seperti apa yang diambil? Retorika akhirnya adalah sudahkah ada keberanian untuk menjawab? Untuk bertanya pada raga yang ditiupkan nyawa, “Adakah jiwa ini telah berani menaklukkan gejolak atas nurani yang ada?”

Bandung, 5 Maret 2013

menjelang pulang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s