[Cerita] Atap yang Semula

Seorang kawan tengah tertidur pulas di bawah atap yang dirubuhkan. Dalam tidurnya banyak mimpi yang telah diwujudkan. Oleh pemikiran dan tangan-tangan mulia. Di lantai dingin itu ia tertidur. Sore tadi kusapa. Hangat senyumnya sangat meraja. Walau raut wajah itu mengisyaratkan rasa gundah dan penuh harap. Ia salah satu yang terkuat yang kutahu.

Di bawah atap yang roboh itu ia bergerak bersama. Tidak banyak, tapi sangat cukup untuk mencabut jantung penguasa bengis. Ia tertidur dalam karya.

Kini atap itu kembali ada. Dihasilkan oleh ia yang tadi tertidur di bawahnya. Siapa berani meruntuhkan adalah orang-orang yang jiwanya telah dibeli penjahat. Ia tidak sendiri, tapi tidak banyak pula yang bersama. Hanya sejengkal jaraknya dari tanah para dewa. Tapi dewa seolah penuh kuasa, tanpa banyak tanya, cukup tahu dan acuh sisanya.

Jadilah di bawah atap itu perlawanan terhadap kemiskinan makin menjelma. Harap sementara agar dewa terjaga. Ikut campur membantu jelata. Lalu semua bertindak sesuai logika, rasa, dan raga. Akhirnya, Tuhan-lah yang pantas menertawakan semua. Agar jelata, dewa, penguasa, dan para siswa mau belajar dari-Nya.

 

Bandung, 31 Januari 2013

langit senja, sepi di belakang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s