[Catatan] Opini : Masyarakat Simbolis

Wacana Pengantar : ‘Jual-Beli’ Identitas Islam[1]

Oleh

Hari Triwibowo[2]

 “Sebagai agama dengan penganut terbanyak di dunia, Islam telah bertransformasi dalam banyak hal. Transformasi dalam hal ini memberi pemaknaan pada dinamika cara penyampaian nilai-nilai yang diajarkan oleh islam. Akan cukup sulit apabila penekanan transformasi dalam tulisan ini diberikan pada sudut pandang pergeseran nilai. Boleh jadi, validitasnya akan jauh dari harapan – karena memerlukan tinjauan kualitatif perihal motivasi interpersonal. Penyampaian nilai-nilai yang ada dalam islam tidak lagi terbatas pada pola-pola lama, seperti khutbah ataupun  pendidikan khusus di pesantren atau masjid. Akan tetapi, kekayaan nilai tersebut telah menjelma ke dalam berbagai aspek hidup – di bidang politik, pendidikan, ekonomi, hingga sosial budaya. Wujudnya menjadi semakin beragam, mulai dari praktik perbankan syariah, asuransi, media massa, hingga layanan pesan singkat (SMS). Seolah menemukan kembali ‘keindahan’ dalam Islam, saat ini masyarakat mulai beramai-ramai mencari identitas keislaman mereka melalui berbagai wujud transformasi nilai tersebut. Boleh jadi, simbol-simbol keimanan dimunculkan melalui perilaku tersebut. Inilah yang kemudian memunculkan polemik di mata banyak kalangan  terkait fenomena transfomasi pemikiran dan perilaku Islam. Oleh Fealy (2008), istilah komodifikasi islam – yang dimaknai sebagai bentuk komersialisasi Islam dimana keimanan dan simbol-simbolnya menjadi hal yang dapat diperjualbelikan untuk mendapatkan keuntungan – digunakan untuk menjelaskan hal  ini. Tulisan ini mencoba memberi penjelasan deskriptif mengenai fenomena perkembangan islam yang tengah terjadi di masyarakat Indonesia.”

Fenomena penggunaan produk dan jasa berlabel Islam tengah marak terjadi di masyarakat. Di satu sisi, praktik ini mendapat tanggapan positif karena dianggap telah menempatkan kembali nilai-nilai Islam di kalangan penganutnya. Namun, perspektif lain mengatakan bahwa fenomena ini hanya mengesankan terjadinya praktik ‘jual-beli’ identitas Islam di berbagai bidang. Sebagai contoh, tren busana muslim yang booming di era 2000-an tetap menjadi hal yang menebar polemik di masyarakat. Hal ini disebabkan karena busana muslim – yang mungkin dimaknai sebagai upaya menjadi lebih Islami dalam berpakaian – seolah lebih mengesankan pada keanggunan wujud kebendaannya. Tidak jarang, busana muslim yang digembar-gemborkan ini dijadikan sebagai simbol penanda kelas karena kualitas dan harga yang dimilikinya (Jones, 2007). Masyarakat semakin tertarik pula untuk berbusana muslim karena para selebritis juga ramai mengenakannya. Atau justru identitas Islam – yang diupayakan tercermin melalui busana inilah – inilah yang mengilhami para selebritis agar popularitasnya melesat. Namun, tentu saja motif-motif tulus dari individu yang hendak menyampaikan nilai islam melalui busana ini tidak boleh diabaikan. Sayangnya, penilaian yang objektif akan cukup sulit untuk diberikan bila kondisinya sangat interpersonal. Pencarian identitas ini lebih sering mengarah pada praktik dagang dimana masyarakat ramai mencari simbol-simbol islam di pasaran. Proses simbolis ini kemudian didefinisikan sebagai aktivitas manusia dalam menciptakan makna yang merujuk pada realitas lain daripada pengalaman sehari-hari (Berger & Luckmann, 1979).

Tidak hanya dalam hal kebutuhan berpakaian, praktik jual-beli identitas ini telah menjamah ke berbagai aspek kehidupan. Praktik perbankan merupakan salah satu contoh nyata penerapan konsep Islam di sektor keuangan. Konsep bank syariah digunakan untuk merepresentasikan praktik ini. Bank syariah menawarkan kegiatan perbankan yang didasari atas syariah atau aturan islam. Nilai jual yang ditawarkan oleh bank ini adalah penghapusan sistem bunga bank – yang dianggap riba dalam Islam oleh sebagian kalangan. Praktik ini dimaksudkan agar tercipta kedekatan antara nasabah dengan nilai-nilai islam yang dianutnya. Asumsi awal yang digunakan adalah bahwa nasabah merupakan mereka yang membutuhkan adanya pendekatan nilai-nilai islam pada setiap ruang gerak kehidupannya. Hadirnya bank syariah seolah memberi  kelegaan kepada nasabah atas terhindarnya harta mereka dari hal-hal yang dilarang agama. Artinya, nasabah merupakan orang-orang yang membutuhkan implementasi nilai-nilai islam sebagai upaya pendekatan spiritual. Penelitian Bank Indonesia menyebutkan bahwa motivasi utama kalangan muslim mau menyetorkan uang mereka ke bank Islam (syariah) adalah agar sesuai dengan aturan islam – terutama terkait bunga bank yang sering dianggap riba (Juoro, 2008). Konsep bagi hasil yang diterapkan oleh bank syariah menjadi nilai lebih yang menggantikan konsep bunga pada bank konvensional. Studi lebih lanjut mengenai hal ini menyimpulkan bahwa keberterimaan masyarakat muslim Indonesia terhadap bank syariah cukup baik. Hal ini ditinjau dari kepuasan nasabah terhadap layanan yang ditawarkan oleh bank-bank tersebut. Hingga kini ada tiga bank komersial Islam yang melayani praktik perbankan, yaitu Bank Muamalat Indonesia, Bank Syariah Mandiri, dan Bank Syariah Mega Indonesia. Di tahun 2007, aset tiga bank ini telah mencapai Rp 29,9 triliun dan total pendanaan sebesar Rp 25,7 triliun. Selain dari ketiga bank tersebut, terdapat lebih dari 25 unit layanan perbankan islam yang ditawarkan oleh bank-bank konvensional di Indonesia.

Komodifikasi islam pada prisipnya tidak terlalu terlihat pada praktik perbankan syariah. Hal ini dikarenakan motif nasabah untuk mengonsumsi nilai-nilai islam melalui praktik perbankan islam cukuplah jelas. Bunga bank yang dianggap riba oleh sekian jumlah kalangan muslim di Indonesia menjadi hal yang dihindari oleh nasabah[3]. Ketidakhadiran layanan bagi hasil dan peniadaan bunga pada bank-bank konvensional telah memicu nasabah untuk mencari layanan yang lebih sesuai dengan prinsip islam. Implikasinya, kehadiran bank syariah menjadi angin segar bagi kalangan muslim untuk melakukan praktik perbankan tanpa takut dengan adanya ketidaksesuaian terhadap syariah.

Lain halnya dengan praktik keuangan seperti perbankan, wujud lain dari penawaran identitas islam juga dilakukan di bidang penerbitan dan pemasaran. Contoh usaha di bidang ini yang sempat naik daun adalah pelatihan manajemen ala ESQ milik Ary Ginanjar dan MQ-Net milik Abdullah Gymnastiar. ESQ menawarkan sebuah model pelatihan manajemen yang didasarkan pada teori pengembangan Barat tentang hubungan spiritual, emosional, dan kesuksesan (Fealy, 2008). Model pelatihan ini lebih menekankan pada permainan efek suara dan cahaya serta ceramah yang intensif sehingga memicu emosi keagamaan dari peserta. ESQ terbilang sukses menerapkan konsep ini dimana keberterimaan masyarakat terlihat cukup baik. Terlebih lagi, usaha ini telah memberi dampak atas lahirnya usaha percetakan berbasiskan konsep serupa[4]. Sementara itu, A. A. Gym melalui MQ-Net nya telah membangun sebuah model multi level marketing berbasiskan syariah pertama yang hadir di Indonesia pada tahun 2000. Model ini melakukan pemasaran produk-produk islam mulai dari makanan, pakaian, hingga kosmetik dengan memanfaatkan jaringan internet. Selain itu, jaringan komunitas masjid dan kelompok pengajian juga tak luput dari model pemasaran ini.  Wujud lain dari praktik jual-beli identitas ini cukup banyak, antara lain: usaha penerbitan – media cetak, pariwisata, perhotelan, dan restoran/kafe.

Hal menarik lainnya yang dapat dibahas terkait praktik jual-beli identitas ini adalah layanan dakwah dan pendidikan bernuansa islam. Muzzaki (2007) menerangkan bahwa fenomena di Indonesia saat ini, para dai atau pendakwah telah menjadi selebritis yang dengan mudahnya disorot oleh media ataupun dijamu oleh kalangan elit politik serta pengusaha-pengusaha cerdik. Dahulu, sosok para dai ini dikenal sebagai tokoh yang memiliki kemampuan untuk mendidik dan menginspirasi umat muslim perihal keimanan[5]. Tidak jarang praktik dakwah para dai diidentikkan dengan balas jasa berupa keuangan yang murah hati. Salah satu titik awal munculnya ke-selebritis-an para dai ini adalah pada masa meningkatnya popularitas pendakwah kondang asal Bandung, Aa Gym. Pendakwah ini telah berhasil menjadi salah satu dai terkenal yang memiliki basis massa cukup besar. Dai lainnya yang memiliki popularitas cukup tinggi adalah Arifin Ilham. Tokoh ini dikenal dengan kemampuannya mengolah emosi melalui sesi zikir dan doanya (Howell, 2008). Di kalangan muda, muncul tokoh seperti Jefri Al-Buchori dan Yusuf Mansur yang hadir dengan karakter dakwahnya masing-masing. Uje – sapaan akrab Jefri, adalah contoh dai yang berhasil memberi impresi menarik bagi kalangan muda kelas menengah. Rekam jejaknya yang pernah menjadi pemain film dengan paras ganteng dan sempat menjadi pecandu narkoba, seolah menjadi daya tarik tersendiri bagi massa yang mengikuti kegiatan dakwahnya. Sementara itu, Yusuf Mansur merupakan tipe pendakwah yang lebih banyak membawakan materi tentang kedermawanan hidup dalam ceramah-ceramahnya. Selain itu, ia juga berhasil mengenalkan suatu produk layanan SMS bernama Kun-Fayakun. Layanan ini kemudian berkembang hingga berhasil dipasarkan menjadi buku dan film (Mansur, 2007).

Dakwah yang disampaikan oleh para dai dianggap sebagai suatu bentuk pemenuhan kebutuhan spiritual umat muslim agar senantiasa dekat dengan Penciptanya. Ragam metode yang digunakan oleh para dai ini semakin berkembang seiring dengan inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang hadir di masyarakat. Media yang semakin gemar menampilkan sosok-sosok agamis ini, seolah meng-iya-kan bahwa para pendakwah ini telah menjadi pendatang baru di dunia per-selebritis-an. Adalah hal sangat ideal apabila kepopuleran para pendakwah ini mampu menggerakan hati ‘pemuja’nya agar ikut serta mengaplikasikan nilai-nilai islam yang telah disampaikan dalam dakwah sang dai. Namun, tentu saja motivasi individu dalam hal ini menjadi tinjauan yang akan sangat sulit untuk diberi penilaiannya. Oleh karena itu, boleh jadi muncul kesangsian di masyarakat mengenai efektifitas dakwah yang disampaikan para dai ini – terlepas dari banyaknya massa yang senantiasa hadir dalam acara dakwahnya. Ada pula kecenderungan bahwa nilai-nilai islam yang didakwahkan ini mulai ‘dijual’ ke khalayak ramai. Maksudnya, terjadi realitas dimana para dai tidak segan-segan untuk mematok tarif tertentu atas jasa dakwah yang diberikannya. Tentu hal ini bukan mewakilkan semua kondisi pendakwah di Indonesia. Namun, pada prinsipnya Islam tidak melarang adanya praktik jual-beli atau perdagangan selama masih dalam batasan syariah. Akan tetapi, hadirnya impresi yang memperlihatkan bahwa praktik komodifikasi islam adalah suatu ketidakidealan seolah menuntut adanya pelurusan kembali motif-motif dakwah yang ada. Perlu pula ditinjau bahwa meningkatnya animo masyarakat untuk mengonsumsi nilai-nilai islam, boleh jadi merupakan kesadaran murni dari tiap individu untuk memenuhi kebutuhan spiritualnya. Tidak menutup kemungkinan lain, nilai-nilai islam ini hanya sekedar terwujud sebagai praktik mencari keuntungan bagi si-penjual dan pemantapan identitas islam bagi si-pembeli. Dan satu hal lagi yang perlu dicermati adalah bahwa kecenderungan masyarakat dalam mencari identitas ke-Islam-annya telah terjadi di pasar – tempat dimana jual-beli terjadi. Artinya, ada hal-hal yang berkaitan dengan motif penjual-pembeli, optimalisasi harga-fungsi, dan pengatur kebijakan dalam pelaksanaan praktik ini.

Pasar Identitas

Proses komodifikasi islam yang terjadi di berbagai lini kehidupan disinyalir turut serta mempengaruhi dinamika ekonomi dan budaya masyarakat Indonesia. Konsumerisme atas komoditas Islam memberikan gambaran terjadinya peningkatan religiusitas di tengah masyarakat. Namun, proses yang mengakibatkan dinamika ini juga berdampak pada terjadinya Islamisasi di banyak hal. Islamisasi menekankan pada suatu kondisi terwujudnya hal-hal  yang bernuansa islami. Kondisi ini terlepas dari motif pribadi pemaknaan nilai islam yang ada dibalik perwujudannya. Artinya, terjadi dualisme sebagai konsekuensi hadirnya komoditas-komoditas islam di masyarakat.

Peningkatan komoditas-komoditas islam di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pengaruh globalisasi. Keterbukaan bangsa Indonesia terhadap asing telah memberi dampak pada perkembangan di berbagai sektor publik. Kesempatan memperoleh pendidikan dan pekerjaan yang lebih baik di kawasan perkotaan, memicu terjadinya perpindahan penduduk dari desa ke kota secara masif. Pertumbuhan kelas menengah baru di perkotaan semakin meningkat sebagai efek dari tersediannya banyak kesempatan untuk menjadi profesional. Pada akhirnya, kondisi ini telah menghasilkan masyarakat dengan kondisi kesejahteraan hidup yang memadai. Akan tetapi, sudut pandang lain melihat bahwa semakin meningkatnya persaingan di perkotaan mengakibatkan bertambahnya tekanan-tekanan hidup bagi kalangan ini. Kelas menengah yang sedang semangat bertumbuh, menjadi kalangan yang di satu sisi memiliki kesempatan besar untuk meningkatkan taraf hidupnya, namun di sisi lain sangat tidak stabil. Pergerakkan yang semakin cepat ini kemudian didukung oleh kehadiran teknologi internet yang semakin mempermudah akses informasi. Kondisi ini pula yang pada akhirnya mempengaruhi pembentukan identitas dan pola konsumsi di wilayah perkotaan (Mandavile, 2001 ; Roy, 2005).

Perubahan kondisi sosial dan budaya ini telah memicu terjadinya ‘kegundahan’ akan nilai-nilai agama. Turner (2007) mengungkapkan bahwa transformasi sosial dan budaya yang merambah ke wilayah perkotaan telah mengakibatkan goncangan pada identitas keagaman. Nilai-nilai moral yang dipahami oleh kalangan terdahulu – yang sering kali berasal dari kawasan suburban, mulai terkikis oleh modernisasi dan globalisasi di perkotaan. Kelas menengah yang menjadi new comer dalam pergulatan hidup di perkotaan merupakan kalangan dengan tingkat kerentanan lebih tinggi untuk terkena dampak dibandingkan kelas lain yang telah lebih dahulu mapan. Sebagai tindak lanjut atas ‘ketidakidealan’ kondisi ini, masyarakat kemudian mulai mencari sumber-sumber ajaran baru – yang salah satunya diperoleh melalui agama. Norma menjadi hal yang sangat dicari dalam ajaran agama sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan spiritual. Kuntowijoyo (2006) menyebutkan bahwa gejala perubahan yang terjadi merupakan bentuk reaksi terhadap budaya massa dimana privatisme dan spiritualisme menjadi cita-cita dalam kesempurnaan. Kemudian, proses pencarian yang mengikuti arus pasar ini pada prinsipnya cenderung bersifat personal. Kalangan muslim lebih menempatkan diri sebagai klien yang bebas ‘mengonsumsi’ pilihannya. Kondisi inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan untuk menjual produk dan jasanya daripada sekedar ‘memaksakan’ (Berger, 1969). Lebih daripada itu, Jones (2007) memaparkan bahwa komodifikasi Islam ini sangat menyadari perihal pemaknaan status. Kegiatan mengonsumsi produk dan jasa Islam ada kalanya dimanfaatkan sebagai penanda perubahan kelas atau status sosial. Contoh kasus, pada Orang Kaya Baru (OKB) yang belum mendapatkan keberterimaan cukup baik dari kelasnya, memiliki kecenderungan untuk membeli produk dan jasa berlabel Islam demi memperlihatkan religiusitas dan kemapanannya. Hal memperlihatkan bahwa komodifikasi islam telah membawa kepada sebuah persepsi mengenai pencapaian status yang lebih tinggi di masyarakat.

Realitas di masyarakat menunjukkan bahwa perilaku konsumerisme atas komoditas islam ini didasari atas pilihan yang rasional dan emosional. Hasil penelitian menyatakan bahwa rasionalitas lebih mendominasi keputusan masyarakat dalam menentukan pilihannya atas pasar komoditas islam yang tersedia. Sebuah survey memamparkan bahwa hanya sepertiga dari masyarakat muslim yang memilih produk jasa berlabel islam sebagai bentuk komitmen atas keagamaannya. Sisanya, cenderung rasional untuk memutuskan pilihan atas dasar pertimbangan kualitas produk yang ditawarkan[6]. Hal ini menunjukkan bahwa komodifikasi islam tidak dapat dipandang hanya dalam lingkup keloyalan terhadap nilai agama. Akan tetapi, motif-motif ekonomi  dari penjual dan pembeli terkadang justru menjadi hal yang dominan.

Impresi Publik

Di akhir tulisan ini, akan dibahas sedikit hal terkait pandangan-pandangan yang terjadi di masyarakat sebagai respons atas praktik komodifikasi Islam di Indonesia. Telah disinggung pada sub-pembahasan di atas bahwa komodifikasi Islam telah memperlihatkan adanya kecenderungan peningkatan religiusitas di kalangan muslim. Hal ini diasumsikan oleh para pengamat Barat sebagai suatu bentuk penguatan kembali pengaruh Islamisme di Indonesia. Kekhawatiran yang diproyeksikan oleh para pengamat ini adalah meningkatkan fanatisme dan radikalisme sebagai konsekuensi atas Islamisasi yang semakin melesat. Namun, realitas yang terjadi justru memperlihatkan kondisi yang berseberangan. Peningkatan Islamisme yang terjadi justru semakin memperlebar sperktrum perilaku dan pandangan terhadap Islam. Ragam ideologi yang sangat kompleks tidak serta merta membuat radikalisme terkait pemikiran Islam semakin kuat. Artinya, komodifikasi diasumsikan telah menyebabkan perluasan makna terhadap ungkapan Islam.

Komodifikasi Islam yang terjadi di masyarakat tengah menghasilkan suatu paham pluralis dalam implementasinya. Di dalam pangsa pasar, masyarakat diberi keleluasan untuk menentukan pilihan mereka atas nilai islam yang hendak dikonsumsi. Individualisme dan kebebasan memilih menjadi dua hal yang dipegang oleh pelaku pasar dalam praktik jual-beli. Para penyedia jasa dan produk Islam dengan jelinya memanfaatkan kondisi ini sebagai peluang untuk meningkatkan usahanya. Dinamika paham pluralis ini pun seolah menjadi hal yang lumrah terjadi. Sifat individualis yang mengarah pada perilaku plural ini merupakan wujud bergesernya nilai-nilai kolektif menjadi selektif dan personal. Urbanisasi dipandang sebagai salah satu faktor yang menyebabkan bergesernya nilai komunal ini di masyarakat (Kuntowijoyo, 2006). Tidak hanya di Indonesia, di negara lain seperti Turki, komodifikasi telah berdampak pada meningkatnya muslimisasi dibandingkan dengan Islamisasi kehidupan (White,2005). Artinya, publik lebih tertarik untuk memperlihatkan sifat ke-muslim-an mereka yang modern, multikultur, dan pluralis daripada terlihat Islamis. Ditinjau dari sudut pandang ilmu komunikasi, aktivitas manusia untuk memperlihatkan identitasnya ini merupakan salah satu cara untuk berkomunikasi – menyampaikan pesan, sengaja ataupun tidak sengaja. Asumsi dasar dari teori interaksional simbolis seolah membenarkan pandangan ini. Dikatakan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk menciptakan dan menggunakan simbo-simbol tertentu untuk berkomunikasi (Zamroni, 1988). Hal inilah yang juga terjadi di Indonesia. Sebagai contoh, partai politik yang membawa simbol religius-nasionalis sebagai landasarn dasarnya lebih mudah dalam hal keberterimaan terhadap muslim daripada  partai politik yang memilih asas Islamis garis keras.

Lain dari pada hal di atas, komodifikasi Islam yang terjadi di Indonesia telah mendapat reaksi yang beragam dari para ulama dan kaum intelektual. Perubahan yang terjadi dalam perwujudan nilai dan wacana Islam, sering kali dipandang sebagai suatu ketidakidealan yang patut untuk dipertanyakan. Contoh ketidakmapanan seorang tokoh agama dalam hal bahasa arab dan hafalan ayat Qur’an dianggap sebagai suatu kelemahan. Padahal, kedua hal tersebut menjadi modal dasar yang mencerminkan tingkat kesarjanaan dan otoritas Islam. Observasi yang dilakukan oleh Mantan Ketua PP Muhammadyah, Ahmad Syafii Ma’arif menghasilkan pernyataan bahwa segala proses Islamisasi yang terjadi di Indonesia – dengan segenap peningkatan kesalehan yang terjadi – tidak mengubah fakta bahwa kejahatan yang dilakukan oleh kalangan muslim tetap pada statistiknya. Sebagai pernyataan tambahan, Ma’arif menyatakan bahwa kalangan muslim baru ini lebih memperhatikan diri untuk terlihat Islam daripada menjadi Islam.

Hal yang perlu dicermati adalah bahwa budaya yang dibentuk oleh pasar telah berdampak pada penyederhanaan pesan-pesan keagamaan. Pemicunya adalah kebutuhan suatu daya tarik yang luas untuk merangkul pangsa pasar – yang dilakukan oleh penjaja produk dan jasa. Akan tetapi, sekali lagi ditegaskan bahwa di antara kalangan muslim tetap terdapat pihak-pihak yang serius dalam menjalankan aktivitas spiritualnya. Tidak sedikit mereka yang mengalokasikan waktu dan material untuk menjalankan ibadah – menerapkan nilai-nilai yang dipegang. Selain itu, tingkat moralitas pun seolah semakin menjadi-jadi dengan bersemangatnya umat muslim untuk saling berbagai (berderma).

Pada akhirnya, selalu ada realitas lain di setiap fenomena umum yang terjadi di masyarakat Indonesia dalam hal komodifikasi Islam. Pembahasan secara komprehensif mungkin akan sangat sulit terlaksana. Kecenderungan yang terjadi adalah pelingkupan kajian dilakukan dengan membatasi fokus-fokus tertentu saja. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi penarikan kesimpulan yang bermaksud mewakili semua kondisi. Respons subjektif yang terjadi atas praktik komodifikasi Islam kontemporer di Indonesia telah menjadi faktor utama dalam memberikan penilaian. Kaum literalis berpegang pada prinsip bahwa Islam telah memiliki aturan-aturan jelas – yang bersifat kekal – di dalam Al Quran, sementara kaum  liberal berpandangan bahwa keimanan harus dipastikan penafsirannya dengan tepat di zaman modern ini. Oleh karena itu, perlu adanya sudut pandang yang sangat luas dalam meninjau proses komodifikasi ini.

Sebagai kesimpulan atas tulisan ini, ada beberapa hal dirasa perlu untuk ditekankan. Pertama, proses Islamisasi yang terjadi di Indonesia pada praktiknya tidaklah merata. Data bahwa porsi perbankan syariah yang hanya memberikan kontribusi sebesar 2 persen di sektor ekonomi nasional, seolah membenarkan hal ini. Belum lagi jika ditinjau dari sudut pandang politis, kemampuan partai politik Islami baru mampu mengumpulkan total 22 persen suara pemilih. Artinya, tidak dapat disimpulkan bahwa Indonesia sepenuhnya telah mengalami proses Islamisasi yang menyeluruh. Kedua, komodifikasi Islam telah memberikan dua impresi utama di masyarakat Indonesia, yaitu : peningkatan religiusitas dan penyederhanaan pesan keagamaan. Dua sudut pandang yang berbeda ini senatiasa terjadi sebagai bentuk subjektifitas atas pemikiran yang diyakini masing-masing individu. Ketiga, komoditas-komoditas Islam yang beredar telah menjadikan pasar sebagai tempat pencarian identitas ke-Islam-an kalangan muslim. Hal ini terlepas dari penekanan di poin kedua bahwa selalu ada motivasi yang tulus dari sekian jumlah individu yang tetap mementingkan pemahaman religiusnya. Keempat, dinamika Islamisasi di Indonesia akan terus terjadi seiring dengan semakin kuatnya pengaruh modernisasi, globalisasi, dan urbanisasi.

Sumber:

Kuntowijoyo. 2012. “Budaya dan Masyarakat.” Tiara Wacana: Yogyakarta

Sihabudin, Ahmad. 2011. “Komunikasi Antarbudaya : Satu Perspektif Multidimensi.” Bumi Aksara: Jakarta.

White, Sally dan Greg Fealy. 2012. “Ustadz Seleb, Bisnis Moral, dan Fatwa Online: Ragam Ekspresi Islam Indonesia Kontemporer.” Komunitas Bambu : Depok.


[1] Diadaptasi dari tulisan Fealy & White ‘Ustadz Seleb , Bisnis Moral dan Fatwa Online ;  Ragam Ekspresi Islam Kontemporer’ untuk disampaikan dalam diskusi rutin Forum Kajian Budaya Indonesia – ITB pada 21 Desember 2012.

[2] Mahasiswa Program Sarjana Teknik Sipil – ITB, angkatan 2008.

[3] Hasil penelitian Bank Indonesia yang  dirilis tahun 2000 menyebutkan, 45 persen kalangan muslim di Jawa Tengah dan 47 persen di Jawa Barat berpendapat bahwa bunga bank merupakan riba.

[4] ESQ telah berhasil mencetak lebih dari 400 ribu eksemplar buku  dengan cetak ulang sebanyak 26 kali (Agustian,2006).

[5] Dai didefinisikan sebagai penceramah – orang yang menjadi perantara dalam menyampaikan ajaran suatu kepercayaan

[6] Survei oleh Karim Financial Consulting Group ; informasi yang disampaikan ini diperoleh dari wawancara dengan Adiwarman Karim tanggal 5 Juli 2007 oleh Fealy (2008).Opini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s