[Catatan] Opini: Menulis

Kuli Tinta Karbitan

oleh

Hari Triwibowo[1]

Kritik dan saran terhadap tulisan yang beredar di media massa seolah tidak ada hentinya. Pemberitaan yang marak mengenai politik di beberapa media massa memunculkan  spekulasi mengenai adanya ‘prioritas kepentingan’ dari pihak tertentu. Wartawan – sebagai garda depan yang menjadi aset media massa dalam menuangkan gagasan – bisa menjadi faktor penentu atas munculnya opini di masyarakat. Walaupun, tidak menutup kemungkinan para penulis non-wartawan juga berkesempatan untuk menyampaikan pemikirannya melalui media massa. Namun, media massa sebagai mata rantai dalam model komunikasi tentunya memiliki regulasi tertentu untuk memuat sebuah tulisan. Dasar komunikasi massa pun menjadi salah satu dasar yang perlu untuk dikuasai dalam penulisan gagasan di media cetak.

Menulis pada prinsipnya merupakan suatu proses untuk menyampaikan gagasan melalui pesan. Di dalam media massa (cetak), tulisan menjadi representasi atas pesan yang diperoleh melalui suatu fenomena atau kejadian. Sihabudin (2011) memaparkan bahwa pesan memiliki makna yang dapat diperoleh, apabila suatu kejadian dapat diobservasi oleh manusia. Artinya, sebuah tulisan yang memiliki pesan dapat dihasilkan apabila peristiwa-peristiwa dapat diamati oleh seseorang. Media massa – yang menjadi wadah bagi para penulis – merupakan saluran yang digunakan sebagai alat pengiriman pesan-pesan massa. Maksudnya, pesan yang disampaikan oleh media massa diperuntukan bagi khalayak ramai. Di dalam proses penyampaian pesan ini, kemungkinan besar terjadi suatu komunikasi massa yang bersifat aksi (linear) dan interaksi. Komunikasi linear merupakan bentuk komunikasi yang mengambil asumsi bahwa pesan yang disampaikan oleh suatu sumber diterima oleh objek melalui kehadiran media. Sedangkan komunikasi interaksi lebih menekankan pada terjadinya pertukaran makna atas pesan yang disampaikan sumber melalui umpan balik atau feed back (West & Turner, 2009). Model komunikasi ini menjadi landasan yang perlu untuk dipahami oleh wartawan ataupun penulis lepas yang hendak melakukan komunikasi massa melalui media yang tersedia.

Komunikasi massa sebagai konsep fundamental di media massa cenderung berperan sebagai acuan awal yang menuntut detail-detail teknis berikutnya. Boleh dikatakan detailing ini menjadi strategi untuk memperbesar peluang dimuatnya suatu tulisan di media massa. Hal ini berlaku secara umum bagi semua penulis, baik wartawan maupun penulis lepas. Tidak jarang para wartawan/penulis senior pun harus mengirim tulisannya berulang kali hingga dapat diterbitkan. Pertanyaan yang sering muncul dibenak penulis adalah bagaimana strategi agar tulisan dapat dipublikasikan oleh media massa tertentu.

Detail pertama yang mesti dipahami oleh penulis ketika hendak mengirimkan tulisan adalah mengenal ‘tipe’ media massa yang hendak dikirimi tulisan. Tipe media massa yang dimaksud adalah segmentasi pasar yang hendak dicapai oleh media dan tokoh yang berperan di balik media tersebut. Pentingnya pemahaman mengenai segmentasi pasar ini, agar tulisan yang masuk media mampu dipahami oleh pembaca. Apabila seorang penulis mengirimkan tulisan yang tidak sesuai dengan segmentasi pasar yang diterapkan oleh media tersebut, tentu peluang keberterimaannya akan sangat kecil. Hal ini merupakan suatu kewajaran mengingat segmentasi pasar berkaitan dengan oplah cetak suatu media. Artinya, tulisan yang tidak sesuai dengan segmentasi pasar dikhawatirkan akan mengurangi minat pembaca jika tetap diterbitkan. Dampaknya, oplah cetak menjadi turun karena peminat berkurang. Selain itu, perlu adanya pengetahuan mengenai tokoh di balik suatu media bertujuan agar penulis bisa memahami jenis tulisan yang tidak dikehendaki penerbitannya di media tersebut. Tulisan yang menyinggung unsur politik, umumnya akan lebih sensitif untuk diangkat ke media. Hal ini yang salah satunya penting untuk dicermati oleh penulis.

Kedua, seorang penulis perlu untuk menperhatikan jenis tulisan apa yang hendak dikirim ke media massa. Artikel, sastra, berita, atau feature merupakan jenis tulisan yang umum diterbitkan oleh media massa. Setiap jenis tulisan tersebut memiliki kriteria penulisan tertentu. Terlebih lagi, beberapa media massa menerapkan kualifikasi khusus untuk masing-masing jenis tulisan tersebut. Umumnya, kualifikasi ini menyangkut tata tulis seperti gramatikal, EYD, imbuhan dan kata baku/nonbaku. Namun, tidak sedikit pula klasifikasi ini bergantung pada editor yang bertugas dalam penyortiran tulisan yang akan naik cetak. Sering kali penulis tidak paham dengan dasar penulisan suatu karya tulis yang umum digunakan. Tidak jarang media massa yang sangat ketat regulasinya, kesalahan tanda baca pun sering kali tidak dapat diterima. Hasilnya, tulisan yang dikirim tidak dapat dipublikasikan. Hal ketiga yang perlu diperhatikan adalah mengamati kecenderungan tulisan yang dimuat oleh media dalam jangka waktu tertentu. Seringkali, suatu media dalam interval waktu tertentu akan menerbitkan jenis tulisan dengan konten yang serupa. Kondisi ini umum terjadi terhadap tulisan berjenis berita. Tulisan yang aktual dan faktual sangat berpeluang untuk dimuat dalam kolom berita di media massa. Untuk itu, penulis perlu untuk mengamati tulisan-tulisan yang biasanya dimuat di media massa tempat tulisannya akan dikirimkan.

Tentunya, bagi seorang penulis pemula adalah hal yang wajar apabila pada masa-masa awal pengiriman tulisan terjadi penolakan dari media massa. Tidak jarang penolakan terjadi bukan karena tulisan yang dikirim tidak berkualitas. Akan tetapi, penolakan justru disebabkan oleh hal-hal yang terkesan remeh seperti format penulisan atau kesalahan tanda baca. Menjadi penulis karbitan bukan berarti tidak mengindahkan kaidah-kaidah tata bahasa yang ada. Justru menjadi penulis dengan gelar karbitan ini dapat menjadi tantangan tersendiri agar selalu lebih baik dalam menulis.  Sebagai saran penutup, tidak berhenti mengirim tulisan ke media massa mungkin akan menjadi pilihan yang cerdas bagi penulis yang memang berniat untuk menulis – tentunya dengan segala perbaikan di setiap penolakan yang diterima.

Referensi

Nasucha, Yakub dkk. 2009. Bahasa Indonesia untuk Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Yogyakarta : Penerbit Media Perkasa.

Sihabudin, Ahmad. 2011. Komunikasi Antarbudaya. Jakarta : Penerbit.

West, Ricard dan Lynn H. Turner. 2009. Teori Komunikasi : Analisis dan Aplikasi. Jakarta : Penerbit Salemba.


[1] Mahasiswa Mata Kuliah Jurnalisme Sains dan Teknologi ITB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s