[Cerita] Biasa Menjadi (Tidak) Biasa

Saya memulai tulisan ini ketika cuaca kota Bandung sedang mendung. Seminggu sudah kota ini diguyur hujan saban hari. Hari ini, baru saja saya menyelesaikan bacaan karya Seno Gumira A berjudul “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara”. Niat untuk menulis menjadi semakin menggebu-gebu, bagai banteng memburu matador – terkesan impulsif dan tergesa. Tapi semua niat yang ada tidak berhasil untuk dieksekusi. Dan entah mengapa, hari ini saya ingin menulis dan benar-benar menulis. Menulis tentang apa yang terjadi hari ini. Hal biasa yang mungkin punya arti tidak biasa, terutama bagi saya. Suatu kebetulan yang mengingatkan saya akan catatan-catatan masa lalu.

Pertama, pagi hari saya mendapat berita duka. Seorang guru besar di Program Studi Teknik Kelautan ITB meninggal dunia. Prof. Hang Tuah Salim, Ph.D, namanya. Dan saya baru menyadari bahwa almarhum merupakan ayah dari kawan kuliah saya. Bodohnya saya baru menyadari kenyataan ini. Kali pertama saya tahu nama beliau (almarhum) adalah ketika melaksanakan proyek dosen di gedung Teknik Kelautan ITB – Labtek VI. Hari ini saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke kediaman kawan saya itu. Niatnya adalah untuk bersilaturahim. Kebetulan sekali seorang kawan yang juga merupakan pengusaha sebuah kafe di Bandung mengajak ke rumah kawan saya yang sedang berduka itu. Lantas, kunjungan itu mengingatkan saya pada sebuah mozaik tentang kematian. Cerita dari keluarga almarhum, sang profesor meninggal karena sakit leukimia – kangker darah. Sepengetahuan saya, kemungkinan bertahan hidup dari penyakit ini cukup kecil. Teringatlah saya pada almarhum saudara saya yang meninggal di awal tahun 2000-an. Penyakit yang dideritannya sama, leukimia. Suatu kebetulan menurut saya mengetahui seorang di hari itu meninggal karena penyakit yang sama.

Saya memperhatikan bahwa sering kali setiap kematian diidentikkan dengan warna hitam – kelam. Warna tersebut seolah menjadi simbol yang mewakilkan perasaan bela sungkawa masyarakat di Indonesia atau mungkin dunia. Sejujurnya, saya menjadi cukup risih dengan dominasi warna ini di hari kematian ataupun acara duka cita. Seolah warna tersebut melakukan provokasi atas kesedihan yang mendalam dari orang yang ditinggalkan. Walaupun  pada nyatanya, di keseharian saya cukup nyaman dengan warna tersebut. Bagi saya, kesedihan atas suatu kehilangan adalah bentuk lain keegoisan manusia. Egois karena adanya perasaan tidak ingin ditinggalkan. Atau mungkin lebih tepatnya tidak siap untuk kehilangan. Padahal sudah jelas digariskan oleh alam, semua di dunia ini adalah semu – bersifat sementara. Kehilangan adalah hal yang biasa. Hanya saja, bagaimana setiap orang memiliki kesiapan untuk suatu kehilangan merupakan cerita lain. Dan bagi saya, hitam seolah memiliki kuasa untuk menyelimuti suasana hati sesorang agar ‘senantiasa’ kelam dan larut dalam duka. Bukankah menghibur seseorang yang tengah kehilangan sesuatu akan menjadi hal lain yang lebih bermanfaat?. Tapi itulah manusia dengan segenap wujud budayanya. Ada hal yang telah menjadi patron untuk diikuti oleh orang banyak.

Bagian kedua yang menjadi mozaik adalah hal konyol tentang sebuah produk makanan bermerk “Pocky”. Produk berlisensi Jepang ini cukup mudah diperoleh di supermarket. Tapi ada cerita lain di balik produk ini. Adalah tentang seorang teman saya yang berniat memberi bingkisan untuk orang yang ia kasihi. Demi kenyamanan, jadilah saya tidak menyebut nama, cukup kata ganti saja. Ya, ceritanya kawan saya tersebut ingin memberikan sebuah bingkisan yang memiliki unsur “kepisang-pisangan” – sebuah istilah yang saya gunakan untuk menjelaskan benda yang memiliki kekhasan layaknya pisang, apakah rasa, aroma, ataupun bentuk. Jadilah kawan saya itu meniatkan diri untuk membeli produk makanan ringan dengan merk seperti yang disebut di atas. Sialnya, seolah menjadi produk favorit sejuta umat di Indonesia, benda bermerk “Pocky” dengan rasa pisang tersebut tak kunjung diperoleh. Adapun yang tersedia di pasaran adalah produk serupa dengan rasa berbeda. Banyak toko dan supermarket telah dikunjungi oleh kawan saya itu, tapi tak kunjung menuai hasil. Urung sudah niatnya untuk memberi bingkisan kepada kekasih hatinya. Kejadian ini sudah berlangsung sekitar lima bulan yang lalu. Bagaikan mata air yang muncul tiba-tiba, produk ini secara tidak sengaja saya temukan tertata rapi di sebuah supermarket di pusat kota, di antara deretan produk makanan lainnya. Hanya karena iseng sedang mencari camilan untuk dikudap, produk tersebut saya temukan dalam ketidaksengajaan. Konyol memang. Tapi itulah sebuah realitas – yang menjadi fakta ketika hal ini saya sampaikan kepada orang lain dengan asumsi adanya umpan balik.

Saya berani bertaruh bahwa hal yang tertulis di atas sering terjadi pada setiap orang di muka bumi ini. Hanya saja, kecenderungan masyarakat Indonesia yang masih berada dalam “kategori” masyarakat lisan tidak banyak yang menuliskanya. Akhirnya, cerita yang ada tertelan bersama angin – tidak diukir menjadi sejarah. Entah saya terlalu detail dalam melihat realitas atau hanya sekedar ikut-ikutan menulis dengan gaya popular – dimana saya berusaha membawa gambaran kehidupan di masa itu, namun penilaian setiap orang tentunya akan menjadi sah-sah saja. Dan paling tidak saya adalah orang yang menuliskan kisah. Bercerita tentang kebenaran, bukan tentang carut-marut kepentingan golongan.

 

Bandung, 25 November 2012

gerimis di luar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s