[Catatan] Opini: Komunikasi

Persepsi Komunikasi [1]

“Manusia adalah makluk yang merdeka sedari di alam pemikiran. Keyakinan akan suatu ‘kekuatan di luar sana’ yang tidak mampu dilawan oleh manusia menjadi satu-satunya batas paling sakral dalam gugus akal sehat. Agama menjadi pedoman dalam memahami kehidupan, yang‘seolah’ membatasi alam pikiran manusia. Manusia wajib bersyukur akan kemampuannya merumuskan fenomena, tapi ia punya titik batas ketika tidak lagi bisa membangga-banggakan pemikirannya.”

Di dalam kehidupan sehari-hari, manusia senantiasa dihadapkan dengan berbagai macam fenomena. Terlepas dari pengaruh media formal, seperti koran dan televisi yang setiap saat berupaya menyampaikan berita dan hiburan, manusia pada dasarnya memiliki kemampuan untuk memahami fakta dan realitas. Dua hal ini – fakta dan realitas merupakan perwujudan dari fenomena yang terjadi dalam kehidupakan. Akal sehat manusia menjadi senjata utama yang berupaya mengungkap makna dibalik fenomena. Lalu pertanyaannya, bagaimana manusia mampu menjelaskan fenomena menjadi fakta atau realitas?

Fenomena secara formal memiliki pengertian sebagai segala sesuatu yang dapat dijelaskan secara ilmiah, berdasarkan data dan fakta. Namun, ada kalanya fenomena yang terjadi tidak mampu dijelaskan oleh manusia secara komprehensif. Katakanlah, fenomena gaya gravitasi yang di dalam sains disebut sebagai gaya tarik-menarik antarpartikel yang memiliki massa. Fenomena ini dapat dijelaskan secara matematis dan aplikatif. Namun, pada nyatanya wujud dari gaya gravitasi tidak dapat dilihat ataupun disentuh oleh manusia. Fenomena ini pada akhirnya dapat dijelaskan sebatas tataran gugus ide, keyakinan, dan penjelasan aplikatif. Jadi, bolehlah kita katakan bahwa fenomena merupakan segala sesuatu yang tejadi dalam kehidupan sehari-hari, yang dapat dijelaskan secara ilmiah ataupun sebatas ‘keyakinan’.

Suatu peristiwa (kejadian) atau dapat dikatakan sebagai perilaku, menjadi bagian dari fenomena apabila ia mampu untuk diobservasi dan diartikan melalui pesan[2]. Manusia dengan kemampuannya untuk berpikir akan melakukan suatu proses observasi atas kejadian yang sedang diamatinya. Observasi yang dilakukan oleh manusia dalam gugus ide ini kemudian diteruskan melalui tahapan ‘kodifikasi’. Tahapan ini bertujuan untuk merumuskan suatu peristiwa agar dapat dijelaskan. Apabila akal pikiran manusia mampu melewati tahap ini, maka akan dihasilkan suatu makna/arti atas fenomena yang terjadi dalam bentuk pesan. Akan tetapi, apabila manusia tidak mampu untuk merumuskan obsevarsi yang sedang dilakukannya, maka fenomena hanya akan tertahan dalam ranah pemikiran. Artinya, fenomena tidak mampu untuk dijelaskan oleh akal pikiran manusia. Istilah ‘imajinasi’ dapat diberikan untuk menggambarkan kondisi ini. Sampai pada tahap dimana suatu kejadian mampu untuk diobservasi dan diberi makna (pesan), maka fenomena dapat diartikan sebagai suatu realitas.

Proses di atas kemudian berlanjut ketika ada media atau saluran yang digunakan sebagai ‘alat’ untuk menyampaikan pesan. Media dalam hal ini dapat berwujud formal ataupun informal. Media formal dicontohkan sebagai media massa cetak/elektronik, bahasa lisan (ucapan), tulisan, atau media audio visual lain. Sementara itu, media informal yang biasa digunakan sebagai pembawa pesan dari suatu subjek antara lain : pakaian, gadget, kosmetik, bahkan gerak tubuh. Sebagai bentuk pengecilan lingkup pemaparan, media formal yang sifatnya masif (mass media) akan coba disingkirkan lebih dahulu dari pembahasan ini. Media menjadi faktor kunci atas tersampaikannya suatu maksud yang hendak dituju oleh subjek. Sebut saja, seorang manusia yang sedang mengalami realitas (kejadian), hendak menyampaikannya kepada manusia lain (masyarakat). Dalam kondisi ini, manusia lain menjadi objek yang dituju oleh subjek. Subjek (manusia sebagai pihak pertama) memiliki maksud untuk menyampaikan pesan yang telah diobservasi dan dikodifikasi. Hasilnya, media menjadi wahana yang menjembatani pesan dari subjek agar tersampaikan kepada objek. Pada tahap ini, objek (manusia) menjadi pihak kedua yang hendak ‘diminta’ responnya oleh subjek. Akan tetapi, oleh karena prinsip dasar di awal yang menyatakan bahwa manusia memiliki hak untuk berpikir independen maka objek ini pun dapat melakukan kodifikasi ulang atas apa yang diterimanya.

Objek sebagai pihak yang juga memiliki kemampuan untuk mengolah kejadian yang disampaikan kepadanya, secara logis akan membuat keputusan atas dua pilihan. Pilihan pertama adalah menyimpan pesan yang disampaikan kepadanya sebatas alam pemikiran. Kondisi ini menjelaskan bahwa pesan yang diterima objek tidak diteruskan menjadi wujud realitas baru. Objek hanya menjadikan realitas yang diterimanya sebagai bentuk lain dari ‘imajinasi’. Artinya, realitas yang hendak disampaikan subjek tertahan dalam persepsi personal objek. Opsi kedua adalah dengan melakukan respons atas pesan yang diterima objek. Bentuk respons yang dimaksud adalah suatu tindakan yang dapat mewujud menjadi realitas baru. Mengapa disebut realitas baru adalah karena objek menerjemahkan rumusan baru berupa tindakan (respons) yang dapat diobservasi dan dimaknai kembali oleh subjek. Hal ini menegaskan bahwa ada umpan balik yang diberikan oleh objek kepada subjek. Kemudian proses akan terus berulang selama manusia masih memanfaatkan akal pikirannya. Proses ini lah yang terjadi dalam praktik komunikasi. Di tahap ini lah suatu realitas dapat bertransformasi menjadi fakta. Kata lainnya adalah fakta merupakan realitas yang terkomunikasikan.  Di dalam pola komunikasi ini, pesan yang dikandung oleh suatu fenomena dapat tersampaikan secara sengaja ataupun tidak sengaja[3]. Sebagai ilustrasi, suatu kejadian yang dialami oleh seorang manusia dan dimaknai oleh manusia lainnya, sekalipun kejadian itu tidak dimaksudkan untuk disampaikan maknanya oleh manusia di pihak pertama, akan tetap berlangsung suatu pola komunikasi. Namun, pola komunikasi yang terjadi menjadi tidak interaktif absolut, sekalipun  ada dua pihak yang berperan, sumber dan penerima. Interaksi absolut mencoba menjelaskan perihal komunikasi yang mampu memberikan feedback kepada subjek atas pesan yang disalurkan.

Jelaslah bahwa komunikasi memegang peran penting dalam memaknai fenomena menjadi realitas ataupun fakta. Komunikasi menjadi kebutuhan di hampir setiap lini kehidupan. Komunikasi mampu menegaskan garis batas atas suatu ketidakjelasan peristiwa. Dan akar atas segala bentuk komunikasi yang terjadi adalah budaya. Keberagaman eksistensi budaya di dunia, yang bermula dari alam pikiran manusia, berimplikasi pada ragam praktik komunikasi yang terjadi. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa hakikat manusia sebagai individu dengan pemikiran merdeka, serta makluk sosial yang membutuhkan peran manusia lainnya, adalah saling menyampaikan pesan dan berbagi gagasan melalui komunikasi.


[1] Tulisan ini merupakan opini penulis  yang disertai dengan saduran ide dari beberapa karya dari penulis lain.

[2] Di sadur dari buku ‘Komunikasi Antarbudaya’ karya Dr. H. Ahmad Sihabudin, M.Si terbitan tahun 2011.

[3] Gagasan dari Porter dan Samovar (1987) yang dikutip melalui buku ‘Komunikasi Antarbudaya’ karya Mulyana dkk (1990)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s