[Coretan] Nyawa Peradaban

Sering kali komunikasi dijadikan “kambing hitam” atas suatu kesalahpahaman. Entah apa dosa diksi yang satu ini. Komunikasi menjadi penting karena ia adalah ruh yang menjadikan manusia saling terhubung satu sama lain. Komunikasi menjadi penjaga tali silaturahim. Ia dapat menjadi senjata “pemusnah masal” – menghancurkan negeri antah berantah. Ia pun dapat menjadi tameng dalam pertempuran dialektika. Kadang kala ia digunakan untuk merayu, memuji, menghasut, bahkan memutarbalikkan fakta yang ada.

Lantas, mengapa ia yang harus di-kambinghitam-kan atas ragam kesalahan? Manusia saja yang tidak jeli untuk berteman dengannya. Ia kadang kala seperti wanita, butuh perhatian dan kelembutan sikap. Sering kali pula ia menjelma jadi orang tua, butuh penghormatan. Dan tidak jarang ia menjadi seperti bocah, perlu untuk diayomi dan dikasihi.

Aha! Jelas sudah, ia adalah nyawa dari peradaban manusia. Tanpanya, manusia hanya akan hidup dalam “diam” – tanpa gerak, tanpa kata.

Sudah jelas, komunikasi membutuhkan delapan punggawa untuk membuatnya bernyawa :

Punggawa pertama adalah subjek. Ia adalah hal yang menjadikan awal dari komunikasi. Subjek adalah ia yang membutuhkan makna. Punggawa kedua bernama encoding. Ia mencoba untuk merumuskan apa yang dibutuhkan punggawa pertama. Rumusannya menjadi penting agar bisa menjelma menjadi punggawa ketiga, message. Punggawa ketiga adalah wujud dari hal yang hendak diberitakan, disampaikan, diinformasikan. Lalu, punggawa keempat muncul sebagai tokoh yang men-jembatan-i subjek menuju objek. Namanya media. Ia menjadi ujung tombak dalam penyampaian makna. Sampailah media kepada punggawa kelima, objek namanya. Ia adalah punggawa yang hendak digoda, diminta untuk terpesona atau justru malah meronta. Objek pun punya jiwa merdeka. Ia mampu untuk melahirkan punggawa berikutnya, decoding. Punggawa keenam mencerna makna yang hendak disampaikan punggawa pertama. Tak ingin ia serta merta hanya menjadi budak tanpa daya. Ia merdeka. Kemudian, muncul punggawa ketujuh, ia diberi nama : respon. Ia merdeka, namun bergantung kepada punggawa sebelumnya yang telah merumuskan makna. Dan sampailah pada punggawa terakhir, feedback julukannya. Ia menjadi umpan balik atas senjata yang disampaikan subjek kepada objek.

Lahir lah komunikasi ke dunia, melalui simbol bahasa, membentuk peradaban dunia.

Hari Triwibowo (2012)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s