[Catatan] Knowledge-Based Economy

– Resume –

Seminar Nasional

“Menyelamatkan Ekonomi Indonesia dengan Knowledge – Based Economy”[1]

Oleh : Prof. Surna Tjahja Djajadiningrat, MSc., PhD.[2]dan Prof. Jann Hidajat Tjakraatmadja[3]

Ekonomi Pengetahuan (Knowledge Economy) merupakan paradigma tahapan pembangunan pada restrukturisasi global ekonomi. Transisi pembangunan dunia saat ini di mulai dari ekonomi pertanian (pre industrial age di sektor pertanian) ke ekonomi industri (the industrial age di sektor manufaktur) ke ekonomi produksi masal (post industry di sektor jasa skala besar era 90’an) hingga saat ini berada pada tahap ekonomi pengtahuan yang bertopang pada sektor teknologi dan modal manusia. Era perkembangan ekonomi pengetahuan ditandai dengan adanya inovasi di bidang teknologi dan kompetisi global yang membutuhkan inovasi pada produk – produk baru dan proses baru. Untuk memenuhi hal ini diperlukan basis komunitas peneliti seperti R&D perusahaan dan universitas. Pada era ini, kebutuhan akan tenaga kerja menuntut adanya karakter khusus seperti kemampuan dalam hal komputersasi, pemanfaatan data, model algoritma dan simulasi, serta inovasi dalam proses dan sistem.

Berbagai keterkaitan yang mengarahkan kekuatan untuk mengubah aturan bisnis dan keunggulan kompetitif suatu negara, antara lain :

  1. Globalisasi
  2. Informasi/intensitas pengetahuan
  3. Media baru
  4. Jaringan komputer (konektivitas)

Aplikasi dari munculnya teknologi baru (inovasi) harus didasarkan atas permintaan pasar. Hal ini bertujuan untuk menciptakan pasar dan meningkatkan permintaan atas produk – produk berbasis pengetahuan menjadi kondisi sin qua non berkelanjutan.

Kinerja Ekonomi Indonesia

Pada prinsipnya, negara dengan paham knowlegde-based economy mengandalkan manusia dengan tingkat pendidikan dan keterampilan tertentu sebagai kapital atau sumber ekonomi pengetahuan negara. Knowlegde-based economy country dipahami sebagai konsep ekonomi yang dikembangkan suatu negara dengan berbasiskan pengetahuan dan diimplementasikan dalam industri berteknologi dan tenaga kerja kompeten.

Ada empat hal utama yang menjadi penopang dalam penerapan konsep knowledge-based economy menurut World Bank, yaitu :

  1. Kebijakan dan regulasi ekonomi dan industri untuk memicu pertumbuhan pengetahuan / teknologi baru serta entrepreneurship nasional.
  2. Lembaga pendidikan dan pelatihan berkualitas
  3. Sistem inovasi industri/perusahaan berbasis riset yang unggul
  4. Teknologi informasi dan komunikasi (ICT) untuk menfasilitasi pemrosesan serta penyebaran informasi/pengetahuan/komunikasi efektif.

Data dari World Bank memperlihatkan bahwa Knowledge Economy Index (KEI) yang dimiliki oleh Indonesia masih berada di bawah negara – negara Asia seperti Korea, Jepang, Singapur, China, Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Indeks ini diperoleh berdasarkan dua aspek utama, yaitu Economic and Institutional Regime Index dan Knowledge Index (KI). Penjabaran dari dua faktor ini antara lain : tariff and non-tariff bariers, regulatory quality, rule of law, education index, innovation index, dan ICT index. KEI merupakan salah satu parameter dalam pengaplikasian konsep Kinerja Ekonomi Berkelanjutan.

Di dalam penentuan Kinerja Ekonomi Berkeadilan, ada tiga aspek yang menjadi tolak ukur penilaian, yaitu :

  1. Gross Domestic Product /Capita (GDP), mengukur nilai pasar total dari semua output yang ada, baik produk ataupun jasa, lalu dibagi dengan jumlah penduduk.
  2. Indeks Sosial (GINI), mengukur tingkat perbedaan pendapat antara masyarakat berpenghasilan tinggi dengan masyarakat berpenghasilan rendah
  3. Environmental Performance Index (EPI), mengukur tingkat pencemaran lingkungan.

Ekonomi Indonesia dikembangkan dengan basis sumber daya alam (Natural Resourses-Based Economy) sehingga kutang signifikan dalam menumbuhkan kinerja ekonomi nasional (GDP). Selain itu, saat ini kondisi Kinerja Ekonomi Indonesia yang dinilai kurang terkendali dapat memicu dampak negatif terhadap kerusakan lingkungan dan kesenjangan sosial. Pembangunan Ekonomi Indonesia perlu untuk merujuk pada konsep berkelanjutan (KEI, GDP, EPI) dan konsep berkeadilan (EPI dan GINI).

Untuk membangun perekonomian Indonesia ke depan, perlu adanya perumusan konsep ekonomi yang tepat guna. Upaya awal yang dilakukan adalah perumusan Kerangka Bangunan Ekonomi Indonesia Berkelanjutan dan Berkeadilan. Ada lima komponen utama yang ditinjau dalam konsep ini, yaitu :

  1. Sentral : kepemimpinan yang Visioner dan Sinergistik
  2. Pondasi : de-bottlenecking MP3EI[4] untuk membangun kolaborasi-sinergistik pusat-daerah (berbasis otonomi daerah)
  3. Pilar 1 : institusionalisasi konsep Knowledge Cluster (tiap koridor) dan Knowledge-Hub (tiap kabupaten/kota)
  4. Pilar 2 : institusionalisasi sistem inovasi regional – Quadro Helix (ABGC)
  5. Kinerja (Hasil) : empat indikator pembangunan ekonomi Indonesia berkelanjutan dan berkeadilan : integrasi KEI-GDP-GINI-EPI.

Ekonomi Pengetahuan Hijau (Green Knowledge Economy)

Pembangunan berkelanjutan bertujuan untuk meningkatkan kesepakatan generasi masa kini tanpa mengabaikan generasi masa depan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Konsep pembangunan berkelanjutan mengintegrasikan aspek – aspek seperti ekonomi, sosial, dan lingkungan sebagai kesatuan holistik. Dalam upaya mewujudkan konsep pembangunan berkelanjutan, perlu adanya integrasi antara Ekonomi Pengetahuan (Knowledge Economy) dan Ekonomi Hijau (Green Economy). Penggabungan dua konsep ini dapat menghasilkan paradigma baru berupa Ekonomi Pengetahuan Hijau (Green Knowledge Economy). Konsep dasarnya adalah melakukan upaya “penghijauan” terhadap konsep ekonomi yang sudah ada (eksisting) melalui produk dan proses inovasi dengan mengutamakan kesejahteraan yang berkeadilan (sosial inclusion), efisiensi penggunaan sumber daya alam dan pengolahan pencemaran lingkungan. Prinsip Eknomoni Pengetahuan Hijau antara lain : mempertahankan nilai guna, nilai intrinsik dan kualitas, mengikuti aliran alam, sampah (waste) menjadi bahan bagi proses lainnya, dan keanekaragaman serta kreativitas.


[1] Seminar Nasional ini diselenggarakan oleh Center of Knowledge for Business Competitiveness (CK4BC) SBM – ITB pada tanggal 3 November 2012 di Aula Timur ITB

[2] Prof. Surna Tjahja Djajadiningrat, MSc., PhD merupakan Guru Besar Manajemen Lingkungan SBM – ITB dan Pakar Ekonomi Hijau

[3] Prof. Jann Hidajat Tjakraatmadja merupakan dosen SBM – ITB yang juga tergabung dalam Center of Knowledge for Business Competitiveness (CK4BC)

[4] Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) merupakan konsep akselerasi transformasi ekonomi  Indonesia dalam rangka mewujudkan visi sebagai negara maju dan sejahtera pada tahun 2025. Konsep ini disusun dengan mengedepankan pendekatan not business as usual, namun melibatkan seluruh pemangku kepentingan dan terfokus pada prioritas yang konkrit dan terukur.

Hari Triwibowo (2012)

— dengan perubahan seperlunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s