[Catatan] “Untuk Apa Halte di Jalan Ganesha?”

Jika pada umumnya halte memiliki fungsi sebagai tempat pemberhentian dan pengangkutan penumpang kendaraan umum, lain ceritanya untuk kasus yang satu ini. Di Jalan Ganesha, Bandung – Jawa Barat, sebuah halte seolah tidak memiliki daya guna yang jelas selain sebagai tempat berteduh dikarenakan angkutan kota yang biasa melewati jalan tersebut dilarang melintas. Bahkan, di malam hari halte ini dimanfaatkan oleh tunawisma sebagai lokasi untuk tidur.

Pagi itu, tanggal 1 Oktober 2012 lalu, pihak ITB yang diwakilkan oleh ibu Puti Farida Marzuki selaku Wakil Rektor Bidang Keuangan, Perencanaan, dan Pengembangan (WRURK) meresmikan hadirnya tiga halte baru di sekitar kampus. Dua unit halte berlokasi di Jalan Ganesha, sedangkan satu unit lainnya berada di Jalan Taman Sari (depan Villa Merah atau Kantor Kealumnian ITB). Hal yang mengagetkan adalah selang sehari setelah peresmian halte tersebut, berdiri pula dengan tegak dua rambu lalu lintas di Jalan Ganesha. Tidak tanggung-tanggung, rambu lalu lintas tersebut berisi larangan melintas bagi angkutan kota (angkot). Lantas, apa gunanya halte dibangun di lokasi di mana angkutan kota tidak diperbolehkan melintas.

Merujuk pada kondisi di sekitar berdirinya halte tersebut, dengan cermat bisa dilihat adanya lebih dari satu kejanggalan dalam penerapan rambu lalu lintas yang ada. Beberapa unit rambu bertanda “Dilarang Parkir” berdiri dengan mantap di sepanjang Jalan Ganesha. Namun, rambu ini tidak lebih dari sekedar ‘hiasan’ di tepi jalan karena realitanya deretan mobil tetap parkir di lokasi tersebut. Kejanggalan kedua tentunya terkait dengan rambu “Dilarang Masuk/Melintas” bagi angkutan kota di sepanjang Jalan Ganesha. Nyatanya, ruas jalan Ganesha yang terlarang bagi angkutan kota hanyalah di bagian depan kampus saja. Ruas ini dimulai dari depan pintu gerbang Parkiran Barat hingga pintu gerbang Parkiran Timur. Kejanggalan ini diperkuat dengan sejumlah angkutan kota yang tetap melakukan pelanggaran terhadap rambu lalu lintas yang sudah diterapkan. Lebih aneh lagi, satu unit halte yang berlokasi tepat di ruas jalan bertanda “Dilarang Masuk/Melintas” bagi angkutan kota ini, seolah hanya menjadi pajangan semata.

Ada dua tanda tanya besar yang muncul akibat fenomena ini. Pertama, jika memang halte dibangun dengan tujuan sebagai lokasi pemberhentian dan pengangkutan penumpang, mengapa dipasang rambu “Dilarang Masuk/Melintas” di ruas jalan tempat halte tersebut berada. Kedua, berkaitan dengan pertanyaan pertama, apakah kondisi ini terjadi akibat tidak adanya sinergi antar-stakeholder yang terlibat dalam pelaksanaan proyek.  Di dalam berita yang dimuat oleh salah satu media online di ITB – Boulevard, dijelaskan bahwa proyek pembangunan halte ini merupakan bagian dari program Revitalisasi Kawasan Ganesha. Realisasi dari program ini melibatkan beberapa stakeholder, seperti pihak ITB, Dinas Cipta Karya, Pemkot Bandung, dan Bank Negara Indonesia. Sangatlah logis dikatakan bila dalam pelaksanaan program ini semestinya tidak terjadi salah persepsi yang berakibat pada kesalahan praktik di lapangan.

Kondisi aktual saat ini memperlihatkan bahwa Jalan Ganesha masih dilalui oleh kendaraan umum, khususnya angkot. Ketidakwajaran lain yang terjadi adalah para supir angkot senantiasa untuk berhenti tidak pada tempatnya. Bahkan, angkot – angkot ini dengan jumawanya memberhentikan kendaraannya tepat di ruas Jalan Ganesha di depan gerbang utama kampus ITB. Kondisi ini yang sering kali mengakibatkan arus lalu lintas menjadi terhambat, terutama di jam – jam sibuk.

Jika dirunut ke belakang, di dalam master plan yang diusung oleh Rektor ITB periode 2001 – 2004, Ir. Kusmayanto Kadiman, Ph,D., Jalan Ganesha ditetapkan sebagai jalan kampus dimana angkutan umum tidak diperbolehkan melintas. Sebagai alternatif solusi, arus kendaraan umum dialihkan ke Jalan Gelap Nyawang yang berada di selatan Jalan Ganesha. Kebijakan ini tidak terlepas dari rencana rektor ITB saat itu untuk menjadikan kawasan di sekitas kampus ITB menjadi kawasan wisata terpadu (wisata kuliner, edukasi, dan rohani). Akan tetapi, seiring bergantinya pemangku kebijakan tingkat kota di Bandung, realisasi dari master plan ini seolah tidak mangkus. Boleh jadi, program Revitalisasi Jalan Ganesha yang diusung oleh pihak ITB ini merupakan kelanjutan dari rancangan rektor ITB terdahulu. Hanya saja, sepertinya masih ada “pekerjaan rumah” yang mesti dikawal bersama terkait kejanggalan penerapan kebijakan di Jalan Ganesha ini, khususnya pembangunan halte dan pemasangan rambu “Dilarang Masuk/Melintas” bagi angkutan kota. Hal ini tentunya bertujuan agar tidak terjadi salah persepsi di masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s