[Catatan] Kampus ITB “Kebanjiran” Motor dan Mobil

Kamis (20/09) lalu suasana kampus ITB terlihat tidak jauh berbeda dengan hari lainnya. Saat ini masa perkuliahan belum lama dimulai. Sejumlah 3325 mahasiswa baru sudah mulai melakukan aktivitas akademiknya di kampus ITB. Penambahan jumlah mahasiswa ini memang masih bisa diimbangi dengan jumlah kelas untuk berkegiatan. Itu pun dengan kondisi pengaturan jadwal kuliah dan praktikum yang ketat. Akan tetapi, kondisinya menjadi berbeda ketika mengamati area parkir yang tersedia di kampus ITB. Lokasi parkir yang berada di sebelah utara, barat, dan timur kampus terlihat lebih ramai dari bulan-bulan sebelumnya. Indikasinya adalah penambahan jumlah mahasiswa baru yang baru memulai masa perkuliahannya.

Seperti yang diketahui, akhir Agustus lalu merupakan masa awal perkuliahan di kampus ITB. Penambahan jumlah mahasiswa yang masuk ini idealnya juga diimbangi dengan sejumlah mahasiswa yang lulus. Hal ini menjadi penting terutama terkait penyediaan fasilitas pendukung kegiatan akademik dan nonakademik di ITB. Secara hitungan kasar, jumlah total mahasiswa strata 1 di ITB berkisar di angka 11.000-12.000 orang. Salah satu fasilitas di ITB yang terkena imbas dari penambahan mahasiswa baru ini adalah area parkir umum. Area parkir yang secara sistem diperuntukan bagi masyarakat umum ini, pada kenyataannya tetap didominasi oleh sebagian besar mahasiswa. Hal ini dikarenakan dosen dan karyawan memiliki akses untuk parkir di lingkungan dalam kampus.

Sepanjang tahun, umumnya kondisi perparkiran di tiga lokasi di kampus ini tidak pernah mengalami over capacity. Pengecualiannya adalah kondisi di masa-masa awal perkuliahan seperti beberapa hari ini. Sejak akhir Agustus lalu, semua lokasi parkir seolah mengalami kebanjiran “order” jasa. Hal ini terutama terlihat di parkiran barat dan timur yang memang menyediakan jasa Valet Parking. Bahkan, beberapa kendaraan (mobil) terpaksa harus mengantri di depan gerbang masuk parkir. Salah seorang petugas yang parkir yang tidak disebutkan namanya menyatakan bahwa kondisi parkiran yang “penuh” ini sangat umum terjadi, terutama di hari senin hingga kamis. Sementara itu, di hari jumat dan akhir pekan, kondisi parkir relatif normal, tidak terlalu penuh.

Area parkir ITB merupakan lahan yang disediakan khusus untuk menfasilitasi mahasiswa dan masyarakat umum yang hendak memarkir kendaraannya. Pengelolaan area parkir ini diserahkan kepada pihak swasta, yaitu ISS Parking. Adanya pengelolaan dari pihak swasta ini dengan harapan tersedianya pelayanan yang optimal bagi pengguna jasa area parkir. Untuk memenuhi hal tersebut, pihak ISS Parking mempekerjakan 31 karyawannya untuk mengelola ketiga area parkir. Jumlah tersebut merupakan angka total dengan sistem kerja karyawan per shift. Setiap shift, jumlah karyawan yang beroperasi adalah 2-3 orang. Kondisi di lapangan memperlihatkan bahwa jumlah ini dinilai kurang efektif di hari-hari sibuk.

Data dari ISS Parking menyatakan bahwa, rata-rata jumlah kendaraan yang masuk di ketiga lokasi parkir sejumlah 6010 unit per hari. Angka ini merupakan akumulasi dari kendaraan roda dua dan roda empat. Sementara itu,  luas area  parkir yang dikelola ISS Parking hanya mampu menampung sekitar 2940 unit kendaraan (roda 2 dan roda 4). Data ini tentunya sangat mendukung kondisi faktual yang terjadi di lapangan. Terlihat jelas bahwa kondisi parkiran cenderung mengalami over capacity setiap harinya. Hingga saat ini, upaya yang dilakukan oleh ISS Parking selaku pihak pengelola adalah dengan mengalokasikan sebagian luas area parkir mobil untuk dipergunakan bagi kendaraan roda dua. Pertimbangannya adalah jumlah motor yang keluar masuk area parkir cenderung lebih banyak dibandingkan mobil. Sedangkan solusi untuk jumlah mobil parkir yang membludak adalah dengan menyediakan jasa Valet Parking.

Melihat kondisi ini, belum ada solusi teknis yang diterapkan oleh rektorat ITB sebagai pemegang kebijakan di lingkungan instansi. Beberapa mahasiswa dan perkumpulan mahasiswa sudah memberikan beberapa rekomendasi solusi untuk mengatasi masalah hal ini. Salah seorang mahasiswa teknik sipil ITB dengan inisisal GA bahkan menjadikan parkir ITB sebagai objek kajian tugas akhirnya. Solusi yang ditawarkan adalah melalui pembangunan ruang parkir baru yang terintegrasi dengan infrastruktur lainnya. Sementara ini, solusi lain menyebutkan bahwa paling penting adalah melakukan perubahan gaya hidup. Artinya, ITB sebagai pemegang kebijakan semestinya mampu menghasilkan sistem yang mampu mengubah gaya hidup mahasiswanya untuk dapat mengurangi penggunaan kendaraan bermotor ke kampus. Tentunya solusi ini akan jauh menghemat biaya dibandingkan dengan membangun fasilitas parkir yang baru. Namun, kelemahan dari rekomendasi ini adalah diperlukan upaya teknis yang cukup besar dan waktu pelaksanaan yang cukup lama hingga diperoleh hasil yang optimal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s