[Catatan] Kampung Wisata Dago Pojok

“Senantiasa Bergaya di Tengah Kehidupan Urban Bandung”

 

“Dulunya, di daerah Dago Pojok ini sering terjadi tawuran antarkampung. Tapi, sejak dirintisnya komunitas Taboo ini, tawuran sudah tidak pernah lagi terjadi, berganti menjadi kegiatan – kegiatan positif”, ujar Kang Rahmat Jabaril – penggagas berdirinya PKBM Rumah Kreatif Taboo.

Siang itu cuaca kota Bandung terasa cukup cerah. Sesekali awan gelap terlihat menggantung di kolong langit. Suasana kota saat itu tidak terlalu ramai, cukup kondisif untuk pergi keluar rumah sekedar mencari camilan atau pun berjalan – jalan santai. Maklum, hari itu (28/10) adalah akhir pekan terakhir di bulan Oktober tahun ini. Tepat dua hari setelah perayaan hari raya Idul Adha 1433 H. Sepertinya, gelombang arus balik warga yang tengah menikmati liburan ke luar kota baru akan terjadi sore harinya.

Di antara kesibukan masyarakat kota Bandung menikmati akhir pekan, kang Rahmat malah menyibukkan diri dengan mondar – mandir di sekitar  jalan Dago Pojok, Bandung. Sesekali ia terlihat tengah mengamati telepon genggam miliknya. Selang beberapa detik, ia kembali sibuk mengamati gerak gerik orang – orang yang ada di sekitar. Seolah berperan sebagai mandor dalam proyek pembangunan rumah susun, kang Rahmat terlihat cukup tenang menghadapi kesibukannya tersebut. Tak tampak adanya raut wajah yang mencerminkan kegelisahan atau pun kepanikan. Hari itu ia tengah mengawasi keberjalanan sebuah helatan akbar bertajuk “Festival Kesenian Tatar Sunda”. Benar saja, ia adalah orang yang diamanahi menjadi ketua pelaksana acara tersebut.

Di sela – sela kesibukannya, kang Rahmat dengan senang hati menerima tawaran untuk diwawancarai terkait acara yang ia garap bersama rekan – rekan.  Festival Kesenian Tatar Sunda ( di spanduk bertuliskan “Festival Seni dan Budaya Sunda – Kampung Wisata Kreatif Dajo Pojok”) merupakan acara yang digagas oleh komunitas Taboo, atau dikenal dalam bahasa formal sebagai PKBM Rumah Kreatif Taboo. Helatan akbar ini kali keduanya diadakan dalam rangka memublikasikan hasil kreatifitas masyarakat Dago Pojok dalam hal kesenian tradisi, kesenian modern, industri rumah tangga, atau pun kekayaan alam. Di dalam pembukaan acara ini, turut hadir sekretaris daerah Jawa Barat selaku perwakilan dari pemerintah daerah dan kota. Pihak – pihak lain seperti Bandung Crative City Forum (BCCF), Institute Perempuan, dan Pemkot Bandung merupakan stakeholder yang ikut serta mendukung terlaksananya kegiatan ini. Kang Rahmat yang juga merupakan ketua dari komunitas Taboo menuturkan bahwa dalam festival kali ini ditampilkan beragam jenis acara, mulai dari permainan tradisional khas sunda, lomba panjat pinang, mural, hingga penampilan kesenian tradisi dan modern. Antusias dari peserta dan warga terhadap acara ini terbilang cukup ramai. Hal ini terlihat dari jumlah partisipan acara yang mencapai 300-an orang. Jumlah ini merupakan akumulasi dari sekitar 23 komunitas yang diundang untuk hadir meramaikan acara. “Sejumlah komunitas yang menjadi peserta dalam festival ini didatangkan dari kampung – kampung wisata yang ada di kota Bandung dan sekitarnya”, ujar kang Rahmat.

Berawal dari Sekolah Gratis

Komunitas Taboo merupakan sebuah perkumpulan yang digagas pada tahun 2003 sebagai bentuk ‘perlawanan’ terhadap kapitalisme di bidang pendidikan. Berawal dari fenomena semakin meningkatnya biaya pendidikan di Indonesia kala itu, kang Rahmat mencoba untuk menginisiasi sebuah perkumpulan guna memberikan pendidikan gratis kepada masyarakat. Dago Pojok yang secara administratif masuk ke dalam kecamatan Coblong – Bandung, dipilih menjadi lokasi untuk mewujudkan gagasan tersebut. Kala itu, Dago Pojok dikenal sebagai perkampungan yang sering mengalami tawuran antarwarga. Hal ini yang coba disolusikan oleh kang Rahmat melalui gagasannya. Diawal proses eksekusi, ide sekolah gratis yang hendak diwujudkan baru terlaksana sebatas kegiatan bimbingan belajar untuk beberapa mata pelajaran layaknya di sekolah formal. Seiring berjalannya waktu, komunitas ini tidak hanya menfasilitasi kegiatan bimbingan belajar saja. Namun, kegiatan edukasi mulai berkembang dengan terselenggarakannya program penyetaraan status pendidikan seperti paket A, B, C. Program ini pun diadakan secara cuma – cuma (gratis) bagi warga yang ikut serta. Demi mendukung terlaksananya program tersebut, kang Rahmat juga melakukan kerjasama dengan institusi pendidikan formal. Dalam hal ini, SMA N 9 Bandung menjadi salah satu rekanan dalam pelaksanaan program tersebut.

Saat ini, komunitas Taboo tidak hanya memiliki ragam kegiatan yang berkutat dalam hal edukasi saja. Akan tetapi, kegiatan – kegiatan di bidang kesenian dan industri kreatif juga menjadi fokus dalam keberjalanan perkumpulan ini. Pelatihan praktik seni tradisi menjadi salah satu agenda mingguan yang senantiasa diadakan. Kegiatan ini bertujuan untuk menfasilitasi minat masyarakat yang ingin mempelajari kesenian tradisi, khususnya kesenian tradisi Sunda. Adapun contoh pelatihan kesenian yang difasilitasi oleh perkumpulan ini di antaranya : wayang golek, alat musik calung dan kacapi suling, tari jaipong, dan kesenian lainnya. Di akhir proses pelatihan, diadakan suatu helatan besar untuk menampilkan ragam kesenian yang telah diperlajari oleh masyarakat yang terlibat. Kang Rahmat selaku penggagas sekaligus ketua perkumpulan menuturkan bahwa adanya kegiatan – kegaiatan positif ini telah memberikan dampak yang cukup signifikan bagi masyarakat sekitar, terutama warga Dago Pojok. Beliau berkisah bahwa warga Dago Pojok yang dulunya sering melakukan tawuran antarwarga, kini telah berubah menjadi kawasan yang produktif. Hal ini dapat dilihat dari partisipasi warga yang cukup aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Kang Rahmat menyadari bahwa dibalik fenomena buruk yang pernah terjadi di Dago Pojok, terdapat banyak potensi yang bisa digubah menjadi kegiatan – kegiatan positif. Potensi – potensi seperti kesenian tradisi, kekayaan alam, dan industri rumah tangga menjadi hal yang kemudian dijaga dan dikembangkan oleh warga sekitar. Melalui sedikit banyak campur tangan komunitas Taboo, kini Dago Pojok telah menjelma menjadi sebuah kawasan dengan sebutan Kampung Wisata Kreatif. “Mimpi kami adalah menjadikan Dago Pojok sebagai museum hidup kebudayaan tatar sunda”, tegas kang Rahmat di akhir wawancara.

Festival Kesenian Tatar Sunda yang kedua ini berlangsung hanya satu hari, yaitu pada tanggal 28 Oktober 2012, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Acara yang berlangsung mulai pukul 09:00 hingga tengah malam ini bertempat di jalan Dago Pojok, mulai dari depan Kampus Universitas Padjajaran (Fakultas Hukum) hingga ke area persawahan di sekitar perumahan Kampung Padi. Untuk mendukung penyuasanaan acara, pihak penyelengga memasang banyak atribut, seperti umbul – umbul, spanduk, hingga lukisan di sepanjang jalan Dago Pojok.

hari triwibowo / 2012

3 thoughts on “[Catatan] Kampung Wisata Dago Pojok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s