[Catatan] Batik

“JEJAK SEJARAH BATIK NUSANTARA”

Pro-Kontra awal munculnya Batik di Indonesia

Tidak ada catatan sejarah yang menyatakan secara pasti kapan pertama kali batik muncul di Indonesia. Ada yang menyatakan bahwa tradisi membatik sudah ada sejak zaman pra-sejarah. Disebutkan pula bahwa batik sudah ada sejak zaman kerajaan hindu-buddha mulai berkembang di Indonesia, khususnya masa kerajaan Sriwijaya (abad ke-7 sampai 11)1. Pada relief candi Prambanan, terdapat satu bentuk ukiran yang diterjemahkan sebagai relief batik oleh para ahli2.  Beberapa ahli berpendapat bahwa batik di tanah Jawa baru diproduksi pada pertengahan abad ke-18. Alasannya, pada masa tersebut belum terdapat kain yang diyakini cocok untuk dibatik dengan menerapkan desain rumit.  Namun, menurut dokumen yang ada,  Kata ‘batik’ bahkan tercantum dalam rekening muatan kiriman barang pada tahun 1641 dari Batavia ke Sumatera 3.

Jika melihat runutan sejarahnya, ada dua versi dalam penelusuran sejarah perkembangan batik di Indonesia. Versi pertama menjelaskan bahwa tradisi membatik masuk ke Indonesia melalui pada pendatang dari India. Hal ini didasarkan pada periode waktu masuknya pengaruh India ke Indonesia4. Berdasarkan periodisasi tersebut, ditemukan bukti sejarah yang menjelaskan bahwa tradisi membatik di Indonesia berawal dari kebudayaan yang dibawa bangsa India. Salah satu bukti terdapat pada relief candi prambanan. Versi kedua menyatakan bahwa tradisi membatik di Indonesia tidak berasal dari pengaruh India. Para ahli berpendapat bahwa batik sudah ada sebagai tradisi dari masyarakat Indonesia sendiri. Hal ini didasari oleh kondisi perkembangan batik di Indonesia yang mengalami kesempurnaan pada abad ke-14, sedangkan India baru mengalami penyempurnaan pada abad-abad setelah itu5. Selain itu, ada pendapat yang menyatakan bahwa sebelum pengaruh India masuk ke Indonesia, sudah ada kemampuan untuk mengenal teknik pembuatan batik.

Terlepas dari pro-kontra pendapat mengenai bagaimana awal mula munculnya tradisi batik di Indonesia, dapat dilihat bahwa ada satu benang merah yang dapat di tarik. Berbagai pendapat yang ada menyimpulkan bahwa rekaman sejarah mengenai batik di Indonesia mulai jelas pada masa penguasaan kerajaan Hindu-Buddha, terutama masa kerajaan Majapahit. Dasar pemikirannya adalah karena kerajaan Majapahit merupakan kerajaan Hindu terbesar yang berkuasa di Indonesia sebelum akhirnya runtuh oleh kekuasaan Islam6. Melihat besarnya pengaruh Majapahit tersebut, memberikan suatu bentuk pengaruh budaya yang besar pula bagi masyarakatnya, salah satunya adalah tradisi membatik. Oleh karena itu, sangatlah strategis apabila penelusuran tentang jejak batik di nusantara berpatok pada masa penguasaan kerajaan Majapahit.

Masa awal penciptaan batik di Indonesia

Pada masa awal perkembangan batik di Indonesia, kerajaan Majapahit (sekitar 1293 hingga 1500-an M) menjadi tolak ukur sejarah yang merekam peristiwa tersebut. Batik mulanya menjadi pekerjaan yang berada di lingkup kerajaan saja. Tradisi membatik digunakan untuk membuat pakaian bagi para raja, sehingga terkesan terbatas. Namun, seiring berkembangnya zaman, batik yang banyak dikerjakan oleh para pekerja di kalangan kerajaan mulai dibawa ke masyarakat luar. Hal ini dikarenakan banyaknya pekerja di kerajaan yang berdomisili di daerah di luar kerajaan tersebut. Akibatnya, batik mulai dijadikan suatu pekerjaan keseharian bagi masyarakat karena dapat bernilai jual (selain nilai-nilai filosofinya).

Dalam kitab Nagarakertagama, salah satu dokumentasi sejarah sejak zaman Majapahit, disampaikan mengenai gambaran kondisi kerajaan Majapahit yang telah mengenal seni dan budaya cukup mapan7.  Dari sini dapat diambil suatu asumsi bahwa kemungkinan besar  masyarakat Majapahit sudah mengenal tradisi membatik walaupun tidak ada bukti sejarah yang menjelaskan secara nyata. Selain itu, salah satu referensi sejarah yang digunakan adalah sisa-sisa peninggalan kerajaan Majapahit berupa arca. Banyak ragam hiasan pada arca tersebut yang memperlihatkan motif-motif layaknya batik. Hal ini memperkuat kesimpulan bahwa pada masa penciptaan batik, tradisi ini hanya diperuntukan bagi kalangan kerajaan saja. Lebih dari pada hal itu, motif batik yang banyak dijumpai pada arca-arca tersebut adalah pola ceplok, salah satunya motif Kawung. Motif ini diyakini sebagai salah satu motif batik tertua yang ada di Nusantara8.

Motif kawung merupakan representasi dari pencontohan terhadap alam (tumbuhan, buah aren). Pohon Aren sebagai penghasil gula, menyimbolkan rasa manis yang bermakna suatu keagungan dan kebijaksanaan. Selain itu, bentuk pohonnya yang lurus melambangkan wujud adanya keadilan. Karena itu, motif batik kawung memiliki nilai filosofis yang sangat tinggi tentang kekuasaan yang adil dan bijaksana9. Filosofi motif ini cukup menjelaskan mengenai peran dari batik sebagai sebuah symbol yang menjelaskan sifat keagunan, kebijaksanaan, dan keadilan seorang raja pada masanya. Ini lah dasar dari penarikan kesimpulan bahwa batik awalnya memang diperuntukan bagi kalangan kerajaan saja.

Masa perkembangan batik di Indonesia

Seiring dengan runtuhnya kerajaan Majapahit, tradisi membatik tetap berlanjut di masa penguasaan kerajaan Islam, khususnya pada masa sesudah kerajaan Mataram (1588–1681). Kerajaan Mataram merupakan cikal bakal lahirnya dua wilayah besar di jawa tengah, yaitu kesultanan Yogyakarta dan kasunanan Surakarta. Kedua daerah ini sangat erat kaitannya dengan perkembangan tradisi batik di Indonesia. Dan salah satu faktor lain yang turut mempengaruhi perkembangan batik di masa itu adalah masuknya kekuasaan VOC ke Indonesia.

Kota solo (Surakarta) sebagai salah satu pecahan dari kerajaan Mataram, memiliki pola batik yang khas. Pola ini terkenal dengan nama “Sidomukti” dan “Sidoluruh”. Motif Sidomukti biasanya diterapkan sebagai pakaian pengantin dalam upacara pernikahan. Makna dibalik motifnya adalah suatu pengharapan bahwa akan adanya kebahagiaan dan kesejahteraan bagi sang pengantin yang menggunakan batik tersebut. Sementara itu, motif Sidoluhur memiliki makna suatu pengharapan agar si pemakai dapat berhati serta berpikir luhur sehingga dapat berguna bagi masyarakat banyak.

Di Yogyakarta sendiri, batik pertama kali dikenal pada masa kerajaan Mataram I, di bawah kepemimpinan Panembahan Senopati.  Daerah yang menjadi sentra penghasil batik adalah desa Plered10. Seperti halnya di masa kejayaan Majapahit, batik yang berkembang di masa kejayaan kesultanan Yogyakarta hanya sebatas dikalangan kerajaan saja (keraton). Tradisi membatik dilakukan oleh para pembantu kerajaan atau biasa disebut abdi dalem. Selama masa kesultanan tersebut, ada kalanya orang-orang keraton  menggunakan pakaian batik dalam rangka suatu upacara resmi kerajaan. Hal ini lah yang menjadi awal batik mulai dilirik oleh masyarakat di luar keraton. Ditambah lagi para pembatu kerajaan yang banyak tinggal di luar daerah keraton sehingga mampu menjadi pioner-pioner dalam mengenalkan batik ke masyarakat luas.

Selanjutnya, di masa genting pemerintahan Mataram (pecahnya Mataram menjadi Yogyakarta dan Surakarta) dan ditambah dengan masuknya pengaruh Belanda (VOC) ke tanah jawa, kondisi perkembangan batik semakin beragam. Mengapa? Hal ini karena dipengaruhi oleh faktor ketidak stabilan kondisi pemerintahan di masa tersebut sehingga mengakibatkan masyarakat mengungsi ke beberapa daerah seperti Banyumas, Pekalongan, Ponorogo, dan Tulungagung. Orang-orang yang mengungsi ke daerah-daerah tersebut tetap membawa keahlian membatik mereka. Akibatnya, setibanya di daerah baru, masyarakat pendatang tersebut kembali mengenalkan batik yang kemudian memiliki karakter tersediri. Munculnya karakter berbeda ini tentunya juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan daerah setempat. Seiring berjalannya waktu, batik kemudian berkembang ke daerah timur jawa, seperti Gresik, Surabaya, dan Madura. Sedangkan ke arah barat jawa, batik berkembang di daerah Banyumas, Tegal, dan Cirebon.

Perkembangan batik di daerah lain

Di daerah lain, batik mulai ramai dikenalkan selepas masa perang Diponegoro. Hal ini karena perang Diponegoro merupakan salah satu titik balik persebaran penduduk di Jawa Tengah yang kemudian berdampak pada penyebaran batik di seantero tanah Jawa. Peperangan yang terjadi antara tahun 1825-1830 ini pada akhirnya menyebabkan penduduk di wilayah kerajaan Mataram berpindah tempat. Mereka mencari daerah yang lebih aman dari peperangan, seperti Banyumas, Pekalongan, Kebumen, Tasikmalaya dan Ciamis.

Di daerah Banyumas dan Pekalongan, batik berkembang secara lazim dibawa oleh para pengikut pangeran Diponegoro pada masa peperangan. Tidak sedikit dari pengikut itu yang berasal dari dalam keraton (Mataram). Keahlian membatik kemudian diperkenalkan di daerah yang baru mereka tempati. Namun, pada akhirnya, batik di Pekalongan dan Banyumas berkembang dengan karakternya masing-masing. Banyumas dikenal dengan motif dan warna batiknya yang kemudian dikenal dengan sebutan Banyumasan. Sementara itu, di Pekalongan batik juga berkembang dengan cukup baik hingga akhirnya kota ini disebut sebagai kota Batik.

Pada abad ke-19, batik mulai merambah ke daerah Tegal. Pada masa itu, para pengrajin batik disana menggunakan pewarna alami dan kain tenun buatan sendiri. Hasilnya, diperoleh kain batik dengan warna tersendiri yang kemudian dipasarkan ke daerah-daerah di luar Tegal. Menurut sejarah, Tasikmalaya dan Ciamis merupakan daerah yang mendapat pengaruh dari pemasaran batik asal Tegal ini. Batik kemudian mulai dikenal di daerah Jawa Barat, khusunya Tasik dan Ciamis. Menurut alur persebarannya, batik di Jawa Barat banyak berkembang di daerah selatan, yaitu Tasikmalaya dan Ciamis. Batik di Jawa Barat memperoleh pengaruh yang cukup kuat dari Jawa Tengah, dimana asal mula batik ini dikenalkan. Salah satu daerah yang terkenal dengan kerajinan batik adalah Sukapura, pinggiran kota Tasikmalaya.

Batik asal Tasikmalaya secara umum memiliki karakter yang cukup kuat dan berberbeda dengan batik asal Jawa tengah. Ada dua hal utama yang membedakan batik Tasikmalaya dengan batik dari daerah lain, yaitu Warna dan Motif. Umumnya, batik asal Tasikmalaya menggunakan jenis-jenis warna yang kuat dan cerah, seperti oranye, merah, hijau, dan biru. Namun, untuk di daerah Sukapura, terdapat ciri khas warna yang agak berbeda, yaitu warna-warna tanah seperti merah dan coklat.

Apabila ditinjau dari segi motif, batik Tasikmalaya juga memiliki kekuatan karakter tersendiri. Batik ini sangat terkenal dengan ragam hias flora dan fauna – nya. Hal ini sangat mencerminkan kondisi lingkungan yang ada di tanah sunda, khususnya. Ragam hias yang banyak digunakan antara lain, anggrek dan burung, merak ngibing (tari), kulit kayu, motif rereng (keserasihan), buah kopi, burung bangau, dan lainnya. Filosofi dari pencontohan motif dari alam  ini memiliki makna untuk selalu menjaga kelestarian alam sekitar.

Di daerah Jawa Barat lainnya, yaitu Cirebon, batik sudah dikenal cukup baik sejak zaman kerajaan. Kala itu, batik hanya dikenal di kalangan kerajaan saja. Namun, seiring berjalannya waktu, batik mulai menyebar ke masyarakat melalui para pekerja di kerajaan. Ciri khas dari batik asal Cirebon adalah motif satwa dan tumbuhan serta motif laut. Motif laut diperoleh akibat adanya pengaruh China yang masuk ke Cirebon. Selain itu, batik Cirebon juga dikenal dengan motif Mega Mendung-nya. Saat ini, batik asal Cirebon dikenal dengan sebutan batik Cirebonan.

Diluar pulau Jawa, batik juga dikenal di daerah sumatera, khususnya Sumatera Barat. Awalnya, daerah ini lebih dikenal dengan kerajinan tenun-nya. Industri tenun yang terkenal di sumatera barat kala itu adalah tenun “Silungkang”. Sejak masa penjajahan Jepang, daerah ini mulai mengalami keterbatasan akses dari dank e pulau Jawa. Akibatnya, stok kain batik yang biasanya dikirim dari pulau Jawa mulai menghilang. Kondisi ini mengakibatkan beberapa tokoh di sumatera barat mulai berinisiatif untuk mengembangkan batik sendiri. Melalui referensi berupa kain-kain batik asal jawa, dikembangkanlah pola batik dengan gaya sumatera barat. Hasilnya, di tahun 1946 muncul perusahaan batik pertama di Padang Pariaman yang dikembangkan oleh Bagindo Idris, Sidi Ali, Sidi Zakaria, Sutan Salim, dan Sutan Sjamsudin11. Batik asal sumatera barat terkenal dengan warna hitam, kuning, dan merah, serta perpaduan pola Banyumas dan Indramayu.

Fenomena saat ini, batik mulai merambah ke berbagai daerah. Pola persebarannya semakin tidak menentu karena setiap daerah mulai mengembangkan pola batiknya masing-masing. Hal ini dikarenakan adanya pengakuan dari UNESCO terhadap batik sebagai warisan budaya yang perlu untuk dilestarikan. Semenjak saat itu, pemerintah mulai gencar untuk menggiatkan produksi batik diberbagai daerah. Terlepas dari semua perkembang tersebut, ada hal-hal yang patut untuk dipelajari mengenai batik. Pertama, batik pada prinsipnya merupakan buah pemikiran manusia untuk mengekspresikan ide dan gagasannya mengenai kondisi sekitar. Hal ini tercermin dari motif-motif batik yang memiliki filosofi sarat akan makna. Kedua, batik membutuhkan suatu proses penciptaan yang khusus dan unik. Akibatnya, untuk jenis batik tulis, setiap motif yang dihasilkan tidak akan pernah sama dengan motif serupa lainnya. Inilah yang menjadi karakter salah satu wujud budaya membatik, yaitu unik. Ketiga, pemanfaatkan batik sebagai bahan fashion seharusnya tidak mengurangi makna yang terkandung dibalik motif dan pembuatannya. Hal ini sangat penting agar pengaplikasian batik tidak hanya sekedar untuk bergaya, tapi juga untuk mengerti makna yang dikandungnya.

 “Terlepas dari semua pro dan kontra asal usul Batik, pengakuan yang diberikan UNESCO pada prinsipnya dikarenakan pengembangan batik di Indonesia mengalami puncak kejayaaannya. Dan yang terpenting adalah bagaimana masyarakat mampu memahami makna dari batik itu sendiri. Perlu ditegaskan bahwa masih banyak wujud budaya dari bangsa ini yang masih perlu untuk dikembangkan”

triwibowo.hari

teknik sipil ITB – 2008

Sumber:

  1. (Prof.Dr.R.M.Sutjipto Wirjosuparto. Dalam bukunya Bunga Rampai Sejarah Budaya Indonesia)
  2. (prambanan di bangun pada masa Dinasti Sanjaya, abad ke-9).
  3. (http://artscraftindonesia.com)
  4. (“The Period of Hindu Kingdoms”. Embassy of Republic of Indonesia at Bangkok, Thailand. 8 Agustus 2006. Diakses pada 17 Oktober 2006.). Pengaruh Hindu-Buddha merupakan periodisasi pertama dalam sejarah Indonesia. Sejarah diawali dari masa kerajaan Kutai, Sriwijaya, Singosari, hingga Majapahit.
  5. (S.K. Sewan Susanto, S.Teks. dalam bukunya Seni Kerajinan Batik Indonesia juga menentang pendapat batik Indonesia berasal dari India karena perkembangan desain batik Indonesia sampai pada kesempurnaan pada abad ke 14-15, sedangkan perkembangan batik di India baru mencapai kesempurnaan pada abad ke 17-19)
  6. (Kronologi Kota Majapahit“, Kompas, 5 Januari 2009)
  7. Terjemahan Lengkap Naskah Kakawin Nagarakretagama, dari blog World History Note, historynote.wordpress.com
  8. Museum batik di Jogjakarta hanya memiliki koleksi batik tertua dengan motif kawung tertanggal tahun 1840. Namun, pola yang ditemukan pada arca-arca peninggalan kerajaan majapahit memperlihatkan adanya motif kawung sebagai hiasan dari pakaian pada raja. Salah satu arca yang terkenal adalah arca Hari hara yang berupa gabungan dewa Siwa dan Wisnu sebagai penggambaran Kertarajasa (gelar Raden Wijaya – raja pertama Majapahit).
  9. Uns.ac.id
  10. Kronologi sejarah Indonesia 1670-1800 di www.gimonca.com. Plered merupakan lokasi keraton Mataram pada masa pemerintahan Amangkurat I.
  11. [Dikutip dari buku 20 Tahun GKBI] via GKBI.info dan http://batikcirebonan.wordpress.com/sejarah-batik-di-jawa/sejarah-perkembangan-batik-di-indonesia/

3 thoughts on “[Catatan] Batik

  1. I’ll immediately seize your rss feed as I can not in finding your e-mail subscription link or e-newsletter service. Do you have any? Kindly permit me understand in order that I may just subscribe. Thanks.

  2. Do you mind if I quote a few of your posts as long as I provide credit and sources back to your weblog?
    My blog is in the exact same area of interest as yours
    and my users would definitely benefit from some of the information you present here.

    Please let me know if this okay with you. Regards!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s