#2 Jelajah Nusantara – SOLO, “spirit of java”

Sekilas tentang kota Solo

Surakarta, juga disebut Solo atau Sala, adalah kota yang terletak di provinsi Jawa Tengah, Indonesia yang berpenduduk 503.421 jiwa (2010) dan kepadatan penduduk 13.636/km2. Kota dengan luas 44 km2 ini berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali di sebelah utara, Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah timur dan barat, dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah selatan. Sisi timur kota ini dilewati sungai yang terabadikan dalam salah satu lagu keroncong, Bengawan Solo. Bersama dengan Yogyakarta, Solo merupakan pewaris Kerajaan Mataram yang dipecah pada tahun 1755.

Solo juga dikenal sebagai daerah tujuan wisata yang biasa didatangi oleh wisatawan dari kota-kota besar. Biasanya wisatawan yang berlibur ke Yogyakarta dan candi Borobudur/Prambanan juga akan singgah di Solo, atau sebaliknya. Tujuan wisata utama kota Solo adalah Keraton Surakarta, Keraton Mangkunegara, dan pasar-pasar tradisionalnya.

Wisata-wisata alam di sekitar Solo antara lain Tawangmangu (berada di timur kota Solo, di Karanganyar), kawasan wisata Selo (berada di barat kota Solo, di Boyolali), agrowisata kebun teh Kemuning, Air Terjun Jumog, Grojogan Sewu, dan lain-lain. Selain itu di Kabupaten Karanganyar, tepatnya di lereng Gunung Lawu, terdapat beberapa candi peninggalan kebudayaan Hindu-Buddha, seperti Candi Sukuh, Candi Cetho, Candi Monyet, dll. Selain itu tidak jauh dari Solo juga dapat ditemui Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Ratu Boko.

Setiap tahun pada tanggal-tanggal tertentu Keraton Surakarta mengadakan berbagai macam perayaan yang menarik. Perayaan tersebut pelaksanaannya berdasarkan pada penanggalan Jawa. Perayaan-perayaan tersebut antara lain:

Kirab Pusaka 1 Suro

Acara ini diselenggarakan oleh Keraton Surakarta dan Puro Mangkunegaran pada malam hari menjelang tanggal 1 Suro. Acara ini ditujukan untuk merayakan tahun baru Jawa 1 Suro. Rute yang ditempuh kurang lebih sejauh 3 km yaitu Keraton – Alun-alun Utara – Gladak – Jl. Mayor Kusmanto – Jl. Kapten Mulyadi – Jl. Veteran – Jl. Yos Sudarso – Jl. Slamet Riyadi – Gladak kemudian kembali ke Keraton lagi. Pusaka- pusaka yang memiliki daya magis tersebut dibawa oleh para abdi dalem yang berbusana Jawi Jangkep. Kirap yang berada di depan adalah sekelompok Kebo Bule bernama Kyai Slamet sedangkan barisan para pembawa pusaka berada di belakangnya.

Sekaten

Sekaten diadakan setiap bulan Mulud untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tanggal 12 Mulud diselenggarakan Grebeg Mulud. Kemudian diadakan pesta rakyat selama dua minggu. selama dua minggu ini pesta rakyat diadakan di Alun-alun utara. Pesta rakyat menyajikan pasar malam, arena permainan anak dan pertunjukan-pertunjukan seni dan akrobat. Pada hari terakhir Sekaten, diadakan kembali acara Grebeg di Alun-alun Utara. Upacara Sekaten diadakan pertama kali pada masa pemerintahan Kerajaan Demak.

Grebeg Sudiro

Grebeg Sudiro diadakan untuk memperingati Tahun Baru Imlek dengan perpaduan budaya Tionghoa-Jawa. Festival yang dimulai sejak 2007 ini biasa dipusatkan di daerah Pasar Gedhe dan Balong (di kelurahan Sudiroprajan) dan Balai Kota Solo.

Grebeg Mulud

Diadakan setiap tanggal 12 Mulud untuk memperingati hari Maulud Nabi Muhammad SAW. Grebeg Mulud merupakan bagian dari perayaan Sekaten. Dalam upacara ini para abdi dalem dengan berbusana “Jawi Jangkep Sowan Keraton” mengarak Gunungan ( Pareden ) dari Keraton Surakarta ke Masjid Agung Surakarta. Gunungan terbuat dari berbagai macam sayuran dan penganan tradisional. Setelah didoakan oleh Ngulamadalem (Ulama Keraton), satu buah Gunungan kemudian akan diperebutkan oleh masyarakat pengunjung dan satu buah lagi dibawa kembali ke Keraton untuk dibagikan kepada para abdi dalem.

Tinggalan Dalem Jumenengan

Diadakan setiap tanggal 2 Ruwah untuk memperingati hari ulang tahun penobatan raja. Dalam acara ini sang raja duduk diatas dampar di Pendopo Agung Sasanasewaka dengan dihadap oleh para abdi dalem keraton sambil menyaksikan tari sakral ” Tari Bedoyo Ketawang ” yang ditarikan oleh 9 remaja putri yang belum menikah. Para penari terdiri dari para wayahdalem, santanadalem atau kerabat dalem lainnya atau dapat juga penari umum yang memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan.

Grebeg Pasa

Grebek ini diadakan untuk merayakan hari Raya Idul Fitri 1 Syawal. Acara ini berlangsung setelah melakukan sholat Ied. Prosesi acaranya sama dengan Grebeg Mulud yaitu para abdi dalem mengarak Gunungan dari Keraton ke Mesjid Agung untuk didoakan oleh ulama keraton kemudian dibagikan kepada masyarakat pengunjung.

Syawalan

Syawalan mulai diadakan satu hari setelah hari Raya Idul Fitri dan berlangsung di Taman Satwa Taru Jurug di tepi Bengawan Solo. Pada puncak acara yaitu “Larung Getek Jaka Tingkir” diadakan pembagian ketupat pada masyarakat pengunjung. Pada acara syawalan juga diadakan berbagai macam pertunjukan kesenian tradisional.

Grebeg Besar

Berlangsung pada hari Idul Adha (tanggal 10 Besar). Upacara sama dengan prosesi Gunungan pada Grebeg Pasa dan Grebeg Mulud.

(sumber: wikipedia.org)

Secarik kertas tentang kisah kota penuh ramah tamah, Solo.

Suasana Terminal Mendolo, kota Wonosobo tidak terlalu ramai siang itu. Aku dan kelima temanku sampai di terminal sekitar jam 12 siang. Udara panas diselingi tiupan angin semilir seakan mendampingi kami menuju sebuah bus yang sedang parkir di terminal tersebut.

“sampai terminal Secang, berapa mas?” tanya Ari, temanku yang paling hyperactive.

“lima belas ribu, mas.” Sahut sang kondektur.

“wah, kemahalan, bisa kurang g? harga pas nya berapa?”

“ya sudah, sebelas ribu per orang, langsung berangkat, mas.”

“Oke kalau begitu, setuju.” Jawab Ari ke si kondektur.

Kami pun masuk ke dalam bus dan mengambil posisi duduk paling nyaman. Aku memilih duduk agak di depan dan berdekatan dengan jendela. Siang itu, Aku, Ari, Icang, Ofu, Dhany, dan Adi akan melanjutkan perjalanan ke kota Solo, tujuan perjalanan berikutnya setelah Dieng.

Perjalanan ke kota Solo kami tempuh melalui jalur utara. Awalnya, karena tidak ada bus yang langsung ke kota Solo, kami sempat berpikir untuk melewati kota Magelang. Tapi, urung kami lakukan karena ternyata jalur Magelang masih putus akibat lahar dingin dari Merapi. Alhasil, kami lebih memilih untuk point-to-point, melewati jalur  Wonosobo – Secang  –  Bawen – via Ambarawa, dan akhirnya berhenti di kota Solo.

Cukup melelahkan memang, melakukan perjalanan jauh dengan sistem gonta-ganti bus. Terlebih lagi ketika bus yang kami tumpangi dari kota Wonosobo menuju Secang dikemudikan oleh seorang supir bergaya nyentrik khas preman pelabuhan. Kacamata hitam “merk luar negeri”, kemeja lusuh dengan kancing terbuka, dan sebatang rokok yang menyempil di ujung bibirnya memperlihatkan perawakan seorang supir yang sudah memiliki jam terbang sangat banyak. Tak heran, jika bus yang kami tumpangi selalu melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan asap mesin “diesel” dibelakangnya. Hebat betul supir ini, mengemudikan bus tanpa rasa ragu, dengan gaya santai namun pasti, didampingi oleh seorang kondektur yang dengan binalnya bergantungan dipinggir pintu keluar bus sambil bersiul-siul rusuh ketika bus melaju hendak menyiap kendaraan di depannya. Tingkah pola sang supir dan kondektur tersebut cukup membuat kami semua heran dan lebih memilih untuk tidur selama setengah perjalanan (kecuali Ari yang lebih memilih untuk mengobrol dengan orang di sebelahnya)

Hujan turun sangat deras ketika bus sudah mulai memasuki kota Solo. Jam di dalam bus menunjukan pukul 18.15, waktu magrib telah masuk. Kami sampai di terminal Tirtonadi, kota Solo tidak lama setelah waktu magrib masuk. Turun dari bus, kami langsung menuju mushola yang ada di komplek terminal untuk menunaikan sholat magrib. Belum juga puas langit meneteskan butir-butir hujan, sampai akhirnya Ofu memberitahu kami bahwa jemputan kami telah datang. Ya, kali ini kami akan menginap di rumah “bude”nya Ofu yang nantinya akan sangat membantu “wisata” kami selama di kota Solo.

Minibus berwarna hitam itu berhenti di sebuah rumah dipinggir sebuah jalan raya di kabupaten Karanganyar, 30 menit dari kota Solo. Mobil itu adalah jemputan kami sedari di terminal tadi. Sesampai di rumah yang dituju, kami langsung disambut oleh bude Ofu. Terlihat masih cukup muda dan sangat ramah, bude Ofu adalah seorang dokter di rumah sakit terkenal di kota Solo. Suaminya, seorang dokter ahli kandungan yang buka praktik di klinik di sebelah rumah yang kami tempati. Tanpa banyak obrolan, kami dipersilahkan masuk untuk istirahat, tidak lupa kami ucapkan terimakasih kepada pak Basuki, supir yang tadi menjemput kami di terminal.

Kami langsung menuju kamar yang ditunjukan oleh bude Ofu, segera kami bereskan semua barang bawaan dan menghempaskan badan ke atas kasur. Cukup melelahkan memang perjalanan yang kami tempuh. Diluar, salah seorang pembantu di rumah bude memanggil kami untuk makam malam. Kebetulan yang sangat menguntungkan, kami memang sangat lapar sejak diperjalanan tadi. Tanpa basa-basi, kami langsung melakukan ritual santap malam di ruang makan. Menjelang larut malam, selesai makan, kami menyusun rencana jalan-jalan esok hari. Malam itu, senin 03 januari 2011, kami pun beristirahat untuk bersiap menghadapi “wisata” esok hari.

Pagi hari (040111), seusai sarapan, kami langsung berpamitan ke bude untuk jalan-jalan. Pukul 09 pagi, mobil langsung menuju ke Tawangmangu, tujuan pertama kami. Kali ini, supir yang menemani kami adalah pak Waluyo, yang ternyata cukup informatif ketika kami ajak mengobrol.

Satu jam perjalanan, kami sampai di tempat tujuan, sebuah kawasan wisata alam yang cukup terkelola dengan baik. Ada sebuah air terjun dan pemandian di daerah ini. Selain itu, ada banyak monyet yang dengan bebas berkeliaran di kawasan wisata Tawangmangu.

Puas mengabadikan gambar di objek wisata ini, kami melanjutkan perjalanan ke kota Solo. Perjalanan ditempuh selama satu jam dengan melewati jalan yang berbeda dengan jalan ketika kami datang ke tawangmangu. Kali ini kami memilih untuk ke kawasan Keraton Solo lebih dulu. Tidak lupa kami mencoba untuk sholat di masjid Agung kota solo letaknya masih di area keraton. Di kawasan Keraton, kami sempat untuk mencoba masuk ke kawasan pagelaran dan sitihinggil.

Masih di kawasan Keraton, kami sempatkan untuk jalan-jalan di sekitar pasar Klewer – pasar Tradisional yang ada di kota Solo. Tak banyak yang kami lakukan, selain “window shopping” dan sekedar mencicipi es dawet.

Selepas dzuhur, kami melanjutkan perjalanan ke kampung batik Laweyan dan Kaoeman. Kawasan ini cukup unik dimana bangunan-bangunan kuno mendominasi setiap sudut kampung. Hampir disetiap rumah memiliki usaha kerajinan batik. Mulai dari yang sederhana sampai yang setara butik. Tak terasa sore telah menjelang, saatnya kembali ke rumah bude dan siap-siap packing untuk melanjutkan perjalanan.

Malam itu terasa cukup berbeda, wajah teman-temanku terlihat sangat lelah. Entah karena jalan-jalan tadi, atau karena nilai UAS yang sudah keluar (apa hubungannya?). Apapun itu, kami sepakati untuk makan malam, berharap wajah lelah berubah jadi sumringah. Ini adalah malam terakhir kami di kota Solo. Aku dan Icang akan berpisah dengan rombongan Ofu, Ari, Dhany, dan Adi. Mereka akan melanjutkan perjalanan ke kota Jogjakarta esok hari, sedangkan Aku dan Icang akan melanjutkan perjalanan ke kota Malang dini hari nanti.

Selesai sudah Aku dan Icang mengemasi barang bawaan, bersiap untuk berangkat. Kami memilih untuk berangkat ke Malang menggunakan kereta api karena alasan penghematan. Jam 21.30, Aku dan Icang berpamitan dengan bude Ofu. Tak lupa kami ucapkan terimakasih karena telah membantu “menampung” kami. Kami diantar oleh pak Waluyo, turut serta Ari dan Dhany menemani. Ofu dan Adi memilih untuk istirahat karena kelelahan. Kami menyempatkan diri untuk jalan-jalan di kota Solo karena kereta baru akan berangkat pukul 23.55. Kami memilih untuk jalan-jalan ke Slamet Riyadi, sekedar untuk mencari nasi Liwet.  Menjelang tengah malam, kami berangkat ke stasiun.

Setibanya di stasiun Solojebres, Aku dan Icang berpamitan dengan pak Waluyo, Ari, dan Dhany. Senang bisa berpetualangan dengan mereka. Dan sekarang Aku dan Icang harus melanjutkan perjalanan dengan rute kami sendiri. Cukup menyenangkan berada di kota Solo. Cukup singkat memang, tapi sangat terkesan oleh keramah-tamahan orang-orangnya.

Apa yang berkesan di kota Solo???

1. Bude Ofu beserta keluarga

Keluarga bude Ofu adalah yang menyelamatkan perjalanan kami selama di kota Solo. Selama dua hari kami diperlakukan layaknya saudara sendiri. Makan 3x sehari, tempat tidur nyaman, dan orang-orang yang ramah. Kesan singkat yang sangat membekas.

2. Tawangmangu

adalah salah satu objek wisata di kabupaten Karanganyar. Sekawanan monyet di kawasan air terjun di daerah ini adalah objek fotografi yang paling menarik bagi saya.

3. Es Dawet.

Entah mengapa kami sangat berambisi untuk mencicip minuman ini di kota Solo. Dari dua tempat yang menjual es dawet di kawasan pasar Klewer, keduanya memiliki spesifikasi yang berbeda. Aneh.

4. Jl. Slamet Riyadi

adalah jalan utama di kota Solo. Setiap hari, pagi dan sore, jalan ini dilalui oleh kereta api kuno. Unik, layaknya trem, kereta ini melaju dengan kecepatan rendah membelah hingar bingar kota solo setiap harinya. Malam hari, jalan ini ramai dengan para pedagang kaki lima, salah satu yang terkenal adalah penjual nasi liwet.

5. Supir bus Wonosobo-Secang

Gaya nyentrik; kaca mata hitam produk kw jualan di pinggir jalan, celana jeans robek, kemeja kumal kancing terbuka, sebatang rokok diujung bibir, dan gaya kemudi yang ugal-ugalan, adalah hal yang paling aku ingat tentang sang supir.

Review biaya yang dikeluarkan.

* bus dari Wonosobo-terminal Secang , Rp.11000

* bus dari terminal Secang-terminal Bawen, Rp.5000

* bus dari terminal Bawen ke kota Solo, Rp.15000 (AC)

* Biaya makan di nasi Padang, Bawen, Rp.7000

*  Tiket masuk ke Tawangmangu, Rp.6000

* Tiket masuk keraton, Rp.2500

* Es dawet, Rp.3000

* Es sari kacang hijau, Rp.1000

* Tiket kereta Tawangalun, Solojebres-Malang kota lama, berangkat 23.55, biaya, Rp.37000 (ekonomi)

Total pengeluaran : Rp.97500 + (ongkos angkot di wonosobo)

Thank to:

Sopir bus Wonosobo-Secang

Bude Ofu beserta komplotan (para pembantu, pak Waluyo, pak Basuki)

Lima sekawan

(photo: triwibowo.hari)

Berikutnya di htriwibowo.wordpress.com : Sempu (Malang) – haru biru menuju laut biru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s