Jelajah “Negeri laskar pelangi”, Belitong.

sebuah catatan lama tentang perjalanan mudik ke kota Padang…


Backpacking, mungkin sebagian orang akan langsung berpikiran mengenai perjalanan jauh menggunakan ransel dan jauh dari kemewahan suatu tour wisata. Tapi, kenyataannya cukup berbeda ketika saya mencoba menjajal pulau Belitong seorang diri dengan membawa ransel khas backpacker. Banyak hal yang saya alami, sampai akhirnya menuju satu kesimpulan bahwa tak selamanya backpacking itu terkesan sulit dan melelahkan (imho). Jadi, buat para penggemar backpacking, mungkin saya bisa berbagi sedikit pengalaman selama lima hari perjalanan Bandung-Belitong-Padang.

Nah, hal pertama yang perlu diperhatikan sebelum melakukan perjalanan jauh ala backpacker adalah mempersiapkan hal-hal yang dirasa sangat mempengaruhi lama perjalanan anda. Diantara hal-hal tersebut antara lain:

• Rute keberangkatan transportasi yang akan anda gunakan

• Dana yang tersedia

• Tempat yang akan dikunjungi.

Dalam cerita saya nanti, akan dilampirkan ketiga poin utama tersebut dalam setiap check point yang saya buat. Here the story…!

Sedikit cerita sebelum keberangkatan. [August 30, 2010]

Pagi itu masih bulan ramadhan, jam di kampus masih menunjukan pukul 6 pagi dan udara kota Bandung terasa cukup dingin. Namun, saya harus segera mandi dan berangkat kuliah. Ya, minggu itu adalah minggu terakhir kuliah sebelum libur lebaran, tapi pikiran saya sudah melayang jauh ke suatu pulau yang kata orang terkenal dengan keindahan panorama pantainya. Singkat kata, saya sudah merencanakan suatu perjalanan ke pulau Belitong dengan mengambil jatah libur lebih awal alias bolos kuliah (yang ini jangan ditiru…!). Selesai kuliah, saya langsung kabur dari gedung kuliah yang sudah cukup tua dan segera menuju kosan teman (tempat menitipkan barang bawaan). Nah, untungnya semua tugas kuliah saat itu sudah saya bereskan sehingga bisa ‘kabur’ dengan tenang.

Ok. Ternyata dicerita aselinya, saya tidak langsung ke kosan teman, tapi jalan-jalan dulu di sekitar kampus, entah apa maksudnya. FYI, saya kuliah tingkat 3 di jurusan teknik Sipil ITB yang katanya sudah melahirkan banyak orang penting di Indonesia (realitanya memang begitu). Malam harinya setelah buka puasa di kampus, saya baru berangkat ke kosan teman untuk persiapan berangkat ke pulau Belitong. Namun, sebelumnya saya sempat berpapasan (mau pamitan ceritanya) dengan teman beda jurusan yang juga ingin backpacking tapi tak pernah kesampaian. Agnindhira N, seorang gadis jurusan Teknik Lingkungan ITB, terkenal supel ,ramah, dan dijuluki ‘si cantik’.

Sampai juga di kosan teman saya, yang beralamat di Jl.Cisitu lama I no.2, Dago, Bandung. Teman saya ini adalah teman satu jurusan dan satu unit kegiatan di kampus. Fadly, cukup singkat namanya, sangat ramah dan pintar. Saya rasa sudah cukup cerita singkatnya, sekarang mari membahas persiapan keberangkatan ke pulau Belitong.

Untuk menuju pulau ini ada beberapa alternative, jalur laut, udara, dan darat. Setelah saya perhitungkan, ternyata lebih efektif dan efisien jika mengambil jalur udara menggunakan maskapai penerbangan lokal. Saya memilih menggunakan pesawat Batavia air jurusan Jakarta-Tanjung Pandan (Belitong) pukul 10.50. Biayanya berkisar antara 250-500 ribu. Berhubung karena mau lebaran, jadi tiket yang saya dapat cukup mahal, 357 ribu. Dikarenakan saya berangkat dari Bandung, jadi untuk ke Bandara saya menggunakan travel Cipaganti pukul 05.00 dengan biaya 80 ribu (harga mahasiswa).

Persiapan lain adalah tas ransel berisi lima potong baju, dua celana, handuk, laptop dan dua botol minuman (jaga-jaga buat buka puasa). Untuk mengisi tas ransel, sediakan barang-barang yang memang diperlukan selama perjalanan. Jika memilih untuk menginap diluar, sebaiknya juga membawa tenda, dan peralatan standar camping lainya. Terakhir, satu buah tas berisi kamera kesayangan, si mungil Canon EOS 1000D + lensa kit Canon EF-S 18-55 mm f/3.5 IS, lensa fix Canon EF 50 mm f/1.8 II, lensa zoom Canon EF-S 55-250 mm f/4 IS, cleaning set, flash external, filter UV dan CPL, dan tripod (ceritanya mau hunting banyak foto, jadi cerita sedikit tentang kamera). Siap sudah barang bawaan yang harus dibawa, sekarang waktunya istirahat.

Check point 0: Bandung-Jakarta-P.Belitung

• Transportasi, Rute, Biaya

– Pesawat, Batavia air (Jakarta-Tj.Pandan/Belitong) : kisaran 250-500 ribu

– Airport tax : 40 ribu

-Travel, Cipaganti Bandung-Bandara Soekarno Hatta : 80 ribu

Perkiraan total biaya: 370-620 ribu.

Estimasi waktu tempuh: 4 jam (Bandung-Bandara SH-kota Tj.Pandan)

• Alternatif

1. Jalur darat:

– Bus, Bandung-Palembang : 200-250 ribu

– Penyebrangan kapal Ferry, Palembang-Tj.Kelian (Muntok, P.Bangka) : 40 ribu

– Bus, Muntok-Pelabuhan Pangkal Balam (Pangkal Pinang) : 35 ribu

– Penyebrangan kapal cepat Express Bahari, Pel. Pangkal Balam- Pel.Tj.Pandan (Belitong) : 165 ribu.

Perkiraan total biaya: 440-490 ribu.

Estimasi waktu tempuh: dua hari (Bandung-Palembang-P.Bangka-P.Belitong)

Kendala menggunakan alternative ini:

– Jadwal keberangkatan kapal ferry dari Palembang ke P.Bangka hanya 1x dalam sehari.

– Jadwal keberangkatan bus dari Pel.Tj.Kelian (Muntok) ke Pel.Pangkal Balam (Pangkal Pinang) juga 1x sehari.

– Jadwal keberangkatan kapal cepat express bahari dari Pel.Pangkal Balam ke Pel.Tj.Pandan (P.Belitong) juga 1x sehari.

– Jadwal keberangkatan hanya 1x sehari karena transportasi yang ada hanya itu dan jadwal keberangkatan saling terintegrasi satu sama lain (saling menyesuaikan).

– Waktu tempuh bus dari Bandung ke Palembang hampir satu hari.

2. Jalur Laut:

Untuk jalur laut, tidak banyak info yang saya dapatkan. Setahu saya, ada keberangkatan kapal ke pel.Tj.Pandan (P.belitong) dan pel.Tj.Priok, tapi hanya 1x seminggu.

NB: Saya memilih untuk menggunakan jalur udara dengan total biaya saat itu sebesar 477 ribu hingga ke kota Tj.Pandan. Bagaimana anda menghemat biaya transport juga tergantung kreativitas anda.

Day 1 (keberangkatan dan hari pertama di P.Belitong) [August 31, 2010]

Saya berangkat dari Bandung pukul 05.00 (setelah sempat sahur seadanya) menuju bandara SH bersama dua teman lainya. Dua teman saya, Febrinanda DP dan Addinul I, adalah mahasiswa ITB juga, dan akan langsung mudik ke Padang. Saya menggunakan travel Cipaganti, dan ternyata sampai di Jakarta, arus kendaraan di jalan tol cukup padat sehingga sampai di bandara cukup telat, pukul 08.30. Sampai si bandara SH, saya berpisah dengan kedua teman saya dan langsung check in di terminal 1C. setibanya di ruang tunggu, ternyata pesawatnya delay hingga satu jam.

Akhirnya pesawat take off pukul 12.10 dan tiba di bandara Bukuhtumbang, Tj.Pandan (P.belitong) pukul 13.00. Sesampainya disini, saya langsung cari mushalla untuk shalat Dzuhur. Dan disinilah cerita selama di P.Belitong dimulai. Sehabis shalat saya berkenalan dengan seorang petugas bandara berseragam lengkap yang ternyata adalah orang penting di bandara tersebut. Pak Mulyono namanya, beliau asli dari Jogjakarta, namun ditugaskan di bandara Buluhtumbang, Tj.Pandan dan tinggal di kota Tj. Pandan. Beliau sempat menawarkan ke saya untuk pergi ke kota Tj.Pandan bersamanya selepas dinas nanti (sore hari). Namun, karena saya ingin sedikit jalan-jalan, jadi saya menolak tawaran beliau dan memutuskan berjalan kaki keluar bandara.

Di bandara, anda akan ditawarkan kendaraan semacam travel atau taksi untuk menuju kota. Ternyata, jarak dari bandara Buluhtumbang ke kota Tj.Pandan cukup jauh, 15 km. Sampai diluar bandara, jalan kaki kearah luar sekitar 1 km dan bertemu dengan pertigaan. Disini ada palang penunjuk arah (kiri ke Manggar, kanan ke Tj.Pandan). Silakan memilih rute yang anda mau. Mangga adalah kota di timur P.Belitong dan Tj.Pandan adalah kota di barat P.Belitong, jarak keduanya hampir 100 km. Saya memilih untuk ke Tj.Pandan lebih dahulu dengan menumpang kendaraan pick up yang kebetulan sedang menuju kota.

Pak Eli nama pengemudi mobil yang saya tumpangi, seorang penduduk asli belitong. Rumah beliau di sekitar jalan kearah kota Tj.Pandan (Jl.Sudirman) dan bekerja sebagai pengantar barang dari bandara ke kota. Selama perjalanan, pak Eli cukup banyak bercerita tentang P.Belitong. Dalam perjalanan menuju kota, anda akan melewati terminal kota Tj.Pandan. Sampai akhirnya saya sampai di kota Tj.Pandan dan Pak Eli langsung mengantarkan saya ke pantai Tj.Pendam (kota Tj.Pandan). Kota Tj.Pandan tidaklah seramai kota besar di Indonesia, bahkan terkesan hanya seperti kota persinggahan sementara sebelum ke kota lainnya. Tidak ada swalayan besar seperti Hypermart, Superindo, ataupun Careffour, namun cukup banyak warung nasi.

Jika anda telah sampai di kota dari arah bandara, sesampainya di pusat kota ( ada bundaran di pusat kota Tj.Pandan), tinggal ambil jalan lurus kearah pelabuhan, lurus terus melewati pertigaan ke pelabuhan, pasar rakyat, dan bekas perumahan PT Timah sampai bertemu dengan gerbang masuk pantai Tanjung Pendam. Didekat gerbang masuk ini ada masjid Al Ihram, jika ingin menunaikan shalat.

Saya sampai di pantai Tj.Pendam siang hari, sehingga masih ada cukup waktu hingga sunset datang. Cuaca cukup cerah dan terik matahari cukup menyengat kulit (sebaiknya memakai jaket dan sepatu). Pantai Tj.Pendam terkenal dengan sunsetnya, dan disini ombaknya tidak besar, malahan cenderung tenang).

Ada hal lucu yang saya temukan di pantai ini, ketika sedang istirahat di pinggir pantai, saya melihat sepasang muda mudi sedang bertengkar cukup hebat. Herannya, mereka bertengkar cukup heboh, hingga saling menampar, berteriak, mencekik leher pasangan, memukul, lalu pada akhirnya duduk diam kembali, bertengkar lagi, diam lagi, berteriak lagi, dan ending-nya pulang berdua menggunakan motor. Saya hanya bisa diam mengamati mereka bertengkar. Haha.

Hari menjelang petang dan ternyata hujan turun di pantai Tj.Pendam. saya pun berteduh di sebuah pondokan dan berkenalan dengan seorang bapak yang sedang bersenda gurau dengan kedua anaknya yang masih kecil. Beliau bernama, pak Rusman, juga penduduk asli dan bekerja di perkebunan kelapa sawit (saya baru tahu di pulau ini ada kebun sawit). Akhirnya hujan reda, dan sunset pun muncul. Hingga magrib menjelang saya menghabiskan waktu untuk memotret di pantai ini.

Setelah berbuka puasa, saya menunaikan shalat margrib di masji Al-Ihram tadi. Jika ingin makan, banyak warung di sekitar pantai, dan jika ingin makan masakan padang, ada warung nasi (R.M.Sakato) yang berjarak tidak terlalu jauh dari masjid tadi. Cukup berjalan ke arah kota sekitar 10 menit, melewati jalur kedatangan tadi. Makan di rumah makan ini dikenakan biaya 10-15 ribu, tergantung lauk yang anda pilih. Selain itu juga ada warung makan Lamongan (pecel lele, pecel ayam, dan seafood) di dekat R.M Sakato tadi.

Sehabis makan, saya shalat isya dan tarawih di masjid Al-Ihram lagi. Disini saya berkenalan dengan seorang bapak bernama, Indra. Pertanyaan yang sama dengan ketiga orang yang saya kenal sebelumnya juga dilontarkan oleh pak Indra. “dari mana, mas?”, “lagi ngapain di Belitong?”,“ada kenalan?”,”sudah kemana saja?” (dengan logat melayu yang sangat kental). Sampai akhirnya, pak Indra menawarkan ke saya untuk menginap di rumahnya. Padahal saya hanya berniat untuk mencari penginapan di sekitar pantai. Nah, inilah keberuntungan ke sekian yang saya dapatkan selama di Belitong.

Sebelum ke rumah pak Indra, saya diajak ke warung miliknya yang terletak di pinggir pantai Tj.Pendam. Cukup ramai pengunjung yang sedang makan malam saat itu. Selama si warung, pak Indra menceritakan banyak hal tentang P.Belitong, sampai akhirnya kami bercerita tentang kehidupan pribadi masing-masing. Inilah yang saya senangi dari penduduk Belitong, mereka gemar bercerita, terbuka, dan saling percaya. Cukup larut malam, warungpun tutup, dan pak Indra mengajak saya ke menginap di rumahnya yang tidak jauh dari pantai.

Sedikit tentang pak Indra (orang yang membantu saya selam 3 hari di Belitong):

Pak Indra adalah panduduk lokal Belitong, anak ke 5 dari 10 bersaudara. Bertempat tinggal di kota Tj.Pandan dan membuka usaha warung makan di pinggir pantai Tj.Pendam. Beliau memiliki tiga orang anak, yang pertama saya lupa namanya, yang kedua bernama Erik dan telah menikah (memiliki anak bernama Pasha), dan yang ketiga bernama Terrin (masih kelas 1 SMA). Beliau sangat ramah, rajin beribadah, dan baik pada semua orang. Beliau cukup terkenal di Belitong, ini terlihat dari cerita masa mudanya dahulu dan dari banyaknya pegunjung yang datang ke warungnya. Sebelum membuka usaha warung makan, beliau sempai bekerja di penginapan milik kakaknya dan sempat juga membuka usaha café.

Check point 1: bandara Buluhtumbang-Tj.Pandan-pantai Tj.Pendam

• Transportasi, Rute, Biaya:

– Taksi/travel ke kota Tj.Pandan: 30 ribu

– Ojek, Tj.Pandan ke pantai Tj.Pendam: 5-10 ribu

• Makan:

– Nasi Padang, RM Sakato : 10-15 ribu

– warung Lamongan : 15-20 ribu

• Penginapan: Saya tidak sempat melakukan survey tempat menginap, namun dari info yang diberikan pak Indra, rentang harga penginapan untuk 1 malam: 150-200 ribu (cukup mewah, pakai AC).

Perkiraan total biaya: 205-275 ribu (transport, makan 2x, dan penginapan)

Estimasi waktu tempuh: 30 menit (bandara Buluhtumbang-kota Tj.Pandan)

• Alternatif

– Transportasi dari bandara: numpang mobil pick up/truk penduduk yang kearah kota

– Makan: makan di RM Padang atau masak sendiri menggunakan peralatan camping (kalau ada)

– Penginapan: numpang di rumah penduduk atau menginap di masjid (tapi tidak boleh di dalam)

NB: Penulis memilih opsi alternative di hari pertama di Belitong. Dimana penginapan dan transportasi tidak mengeluarkan biaya karena menumpang dengan penduduk lokal. Sedangkan makan malam hanya 1 x (lagi ramadhan) di RM padang dengan biaya 10 ribu (nasi telor + sayur + es the manis).

Total biaya keluar hari pertama sebesar 10 ribu.

Day 2 ( wisata pantai) [September 1,2010]

Hari ini saya berencana untuk ke pantai Tanjung Tinggi dan pantai Tanjung Kelayang yang terkenal dengan pantai berpasir putih, laut biru dan tenang. Di hari kedua, keberuntungan berpihak lagi pada saya. Ternyata, pak Indra malah yang mengajak saya untuk mengunjungi kedua tempat itu menggunakan mobilnya.

Untuk menuju pantai Tanjung tinggi, dapat menggunakan angkot atau pun menyewa motor. Jarak ke pantai Tj.Tinggi dari Tj.Pandan cukup jauh, 30 km. Pantai ini dijadikan lokasi syuting film Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi.

Saya berangkat sekitar pukul 09.00 dan sesampainya di pantai Tj.tinggi, cuaca sangat cerah. Ternyata pantai ini memang luar biasa menarik. Pantai dengan pasir putih, arus laut yang tenang, air laut berwarna biru dan kehijauan, serta susunan batu-batu besar menghiasinya.

Untuk mencapai pantai Tj.Tinggi dari kota Tj.Pandan cukup mengambil jalan lurus di sepanjang pantai Tj.Pendam. Jalanan di P.Belitong tidak terlalu ribet, kebanyakan lurus dan memiliki penunjuk arah yang jelas. Setelah menelusuri jalan sepanjang pantai Tj.Pendam, anda akan menemukan pertigaan dengan penunjuk arah (kanan ke Tj.Tinggi, lurus ke Tj.Binga). Jika ingin langsung ke Tj. Tinggi, bisa mengambil arah ke kanan, tapi jika hendak jalan-jalan lebih dulu, dapat mengambil arah lurus ke Tj.Binga. Saya dan pak Indra memilih jalur ke Tj.Binga lebing dulu. Jika memlilih jalur ini, anda akan menemukan tiga kali pertigaan. Pertigaan pertama ( kiri ke Batu Beratu, lurus ke Tj.Tinggi/Tj.Kelayang).

Batu berahu terkenal dengan panorama pantainya yang sangat menarik karena dari sini dapat dilihat panorama pantai diketinggian beberapa puluh meter dari permukaan laut. Kami mengambil jalur lurus menuju Tj.Kelayang. Sebelum sampai ke Tj.Tinggi dan Tj.Kelayang, saya melewati perkampungan nelayan yang terdapat di Tj.Binga. Pertigaan kedua, sebelum pantai Tj.Kelayang (kanan ke Tj.Binga lurus ke Tj.Tinggi) dan pertigaan terakhir adalah yang menuju Tj.Tinggi.

Di pantai Tj.Tinggi terdapat penginapan Lor Inn yang bertarif cukup mahal, kisaran 200 ribu. Saya tidak memilih untuk menginap, tapi melanjutkan perjalan ke pantai Tj.Kelayang. Pantai Tj.Kelayang dan Tj.Tinggi memiliki jalur yang sama sehingga cukup mengambil jalur kedatangan ke pantai Tj.Tinggi tadi saja. Pak Indra mengajak saya ke rumah anak angkatnya (pak Memen) yang ternyata bertempat di pinggir pantai Tj.Kelayang.

Pantai Tj.Kelayang tidak jauh berbeda luar biasanya dibandingkan pantai Tj.Tinggi. Suasananya hampir sama dan sangat cocok untuk snorkeling (pak Memen menyewakan peralatannya). Dari rumah anak pak Indra ini, saya bisa melihat pemandangan ke arah pulau Lengkuas yang terkenal dengan Mercusuar peninggalan Belanda dan dibangun sejak 1882. Di pulau ini hanya ada satu orang penghuni, yaitu penjaga mercusuar. Saya tidak sempat berkunjung ke pulau ini karena tidak sempat mencari perahu nelayan yang hendak berlayar. Jika anda ingin ke pulau ini, bisa menumpang dengan motorboat atau perahu nelayan. Silakan melakukan negosiasi harga. Akan sangat beruntung jika anda bisa mendapatkan tumpangan gratis kesana. Selain itu, pantai Tj.Kelayang merupakan salah satu pantai yang dikunjungi oleh peserta Sail Banda setiap tahunnya.

Sebelum pulang ke Tj.Pendam, saya dan pak Indra menyempatkan diri mampir ke Batu Berahu. Sayang, saat kami tiba, hujan turun sangat deras sehingga panoramanya terlihat kurang menarik. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke rumah pak Indra di Tj.Pendam. Menjelang berbuka puasa, pak Indra mengajak saya untuk berbuka di warungnya di pantai Tj.Pendam. Disini saya dapat kenalan lagi bernama Adi. Ia seorang tour guide merangkap guru les bahasa Inggris. Satu hal yang saya pelajari dari dia adalah, “bahwa dengan bahasa kita mampu menjelajahi dunia”. Sehabis berbuka puasa (lagi-lagi ditraktir pak Indra) saya duduk di pantai menikmati malam dan lagi-lagi mendapatkan kenal penduduk lokal. Namanya Isan, pelajar kelas dua SMA. Anaknya ramah dan sangat aktif bertanya. Hingga malam menjelang, saya standby di warung pak Indra dan kembali menginap di rumahnya.

Check point 2 : Tj.Pendam – pantai Tj.Tinggi – pantai Tj.Kelayang

• Transportasi, Rute, Biaya:

– Angkot (warna merah), terminal Tj.Pandan – Tj.Tinggi PP : 7-10 ribu berangkat sebelum pukul 10.00

• Makan: – Nasi Padang : 10-15 ribu – warung Lamongan : 15-20 ribu

• Penginapan: – Lor Inn : 200 ribu – Cottage : 100-150 ribu

Perkiraan total biaya: 145-235 ribu (transport, makan 2x, dan penginapan)

Estimasi waktu tempuh : 45 menit (Tj.Pandan-Tj.Tinggi-Tj.Kelayang)

• Alternatif

– Transportasi dari Tj.Pandan ke Tj.Tinggi dll : Sewa motor, harga sewa per hari (24 jam) sekitar 40-50 ribu (info dari teman)

– Makan: makan di RM Padang atau masak sendiri menggunakan peralatan camping (kalau ada)

– Penginapan: tidak perlu menginap, atau kalau mau mendirikan tenda saja (ijin dengan pengelola pantai). Atau juga ada penginapan kecil disekitar pantai dengan biaya dibawah 150 ribu

NB: hari kedua di Belitong ini, penulis belum mengeluarkan biaya makan dan transportasi karena masih mendapat tumpangan dari pak Indra.

Total biaya keluar hari kedua: Rp.0

Day 3 (wisata sastra Laskar Pelangi) [September 2,2010]

Hari ini saya berencana untuk mengunjungi tampat terakhir di Belitong, sebelum balik ke kampung halaman. Yang pasti, hari ini saya tidak akan menginap di rumah pak Indra lagi. Tentu saja saya sangat tidak enak jika terus-terusan menumpang di rumah beliau. Target hari ini adalah mengunjungi daerah wisata Laskar pelangi, kota Manggar dan Gantong. Seperti yang saya katakan diawal tulisan bahwa kota Manggar merupakan kota di Timur P.Belitong (kabupaten Belitung Timur) sedangkan kota Tj.Pandan terletak di sebelah barat.

Untuk mencapai tempat tersebut, bisa menggunakan bus dari terminal kota Tj.Pandan dan berangkat di pagi hari. Atau kalau mau bisa menyewa motor atau mobil. Saya berangkat pukul 09.00 bersama bang Erik, anak pak Indra dengan menggunakan mobil beliau. Perjalanan ditempuh dalam waktu sekitar 2,5 jam. Dari kota Tj.Pandan, ambil jalan kea rah bandara, terus saja sampai kota Manggar setelah sebelumnya melewati daerah Kempit. Saya dan bang Erik memilih jalur yang berbeda, yaitu melewati daerah Gantong lebih dulu.

Untuk mencapai Gantong, rutenya sama saja, hanya ketika di jalan ke arah bandara aka nada percabangan jalan, yang satu lurus arah bandara dan yang satu lagi ke kanan arah Gantong. Saya memilih jalan ke arah kanan. Sepanjang perjalanan, akan banyak ditemui perkebunan kelapa sawit dan pertambangan timah. Saat ini, penambangan timah di Belitong dilakukan secara pribadi atau berkelompok. Setelah memilih jalur ini, anda akan melewati desa Lintang (tempat Lintang dalam tokoh Laskar Pelangi tinggal). Tidak perlu khawatir tersesat, ada banyak penunjuk jalan selama perjalanan menuju Gantong. Selain itu, jalanan di Belitong tidak terlalu banya persimpangan yang membingungkan.

Setelah melewati desa Lintang, lurus terus sampai akhirnya bertemu dengan daerah Gantung. Jaraknya dari desa Lintang cukup jauh, beberapa belas/puluh kilometer mungkin. Beberapa tempat menarik di Gantung antara lain: SD N 09 Gantung (tempat SD Muhammadiyah asli berdiri), Vihara Citra Dharma, Pasar Rakyat, dan replika SD Muhammadiyah (untuk syuting film Laskar Pelangi). Replica SD ini ada di desa Selingsing, Gantong.

Sehabis dari Gantong, saya menjutkan perjalan ke kota Manggar yang terkenal dengan kedai kopi nya. Bahkan kota ini memecahkan rekor MURI yang berkaitan dengan minuman kopi. Selain itu, di Manggar (ibukota Belitong Timur) juga ada beberapa tempat menarik yang bisa dikunjungi, yaitu: Bukit Samak (panorama pantai Langlang), pantai burung mandi, dan Vihara Budhhayana. Dari kota ini, kami kembali ke Tj.Pandan menggunakan jalan berberbeda, yaitu melewati daerah Kampit yang jalannya tembus ke pertigaan bandara Buluhtumbang.

Sore menjelang, saatnya saya pamit dengan pak Indra dan keluarga dengan tidak lupa berterimakasih atas bantuan beliau sekeluarga. Malam harinya saya berkunjung ke tempat teman semasa kuliah (senior lebih tepatnya) yang sedang bekerja di Tj.Pandan. Ruska F nama teman saya itu, lulusan teknik Mesin ITB, dan lazimnya saya memanggil dia, Uda. Uda Ruska sempat mengajak saya keliling kota dan makan malam di Jl.Diponegoro (warung Diva, khas masakan chinnese).

Nah, karena ini hari terakhir, maka saya sempatkan untuk membeli oleh-oleh dari P.Belitong. tempat penjualannya ada di Jl.Diponegoro di depan KFC. Nama tokonya Gallery KUKM. Disini dijual berbagai macam kerajinan dari kerang, kayu, dan timah. Saya sempat membeli beberapa gantungan kunci dari kerang. Selain itu, dijual pula Batu Satam yang katanya hanya ada di P.Belitong. harganya cukup mahal, untuk ukuran paling kecil dihargai Rp.80.000. semakin besar dan bagus semakin mahal. Konon, kata penjualnya, batu ini cukup unik karena bisa bersifat seperti magnet. Lainnya, batu ini tidak pernah benar-benar dicari oleh penduduk disana. Biasanya batu Satam diperoleh ketika sedang melakukan penambangan timah. Selesai membeli oleh-oleh, saya menginap di mess tempat Uda Ruska tinggal dan mempersiapkan barang bawaan untuk meninggalkan pulau Belitong.

Check point 3 : Tj.Pendam – Gantong – Manggar

• Transportasi, Rute, Biaya:

-Bus, tujuan terminal kota Tj.Pandan – Manggar PP : 15-25 ribu berangkat pagi hari

• Makan:

– Nasi Padang : 10-15 ribu

– warung Lamongan : 15-20 ribu

• Penginapan:

– Losmen di Manggar : 80 ribu

• Oleh-oleh – Gallery KUKM, depan KFC (Jl.Diponegoro) : mulai dari harga 3 ribu – ratusan ribu.

Perkiraan total biaya: 140 ribu – tidak terbatas (transport, makan 2x, penginapan, dan oleh-oleh)

Estimasi waktu tempuh : 2,5 jam (Tj.Pandan-Gantung-Manggar)

• Alternatif

– Transportasi dari Tj.Pandan ke Tj.Tinggi dll : Sewa motor, harga sewa per hari (24 jam) sekitar 40-50 ribu (info dari teman)

– Makan: makan di RM Padang atau masak sendiri menggunakan peralatan camping (kalau ada)

– Penginapan: tidak perlu menginap di Manggar, kecuali jika terpaksa.

– Oleh-oleh: hanya ada satu tempat yang terkenal menjual oleh-oleh, yaitu di gallery KUKM.

NB: penulis menghabiskan uang 78 ribu untuk membeli beberapa oleh-oleh di hari ketiga di Belitong.

D-DAY (pulang ke Padang) [September 3,2010]

Pagi itu saya terbangun lebih awal, kapal untuk ke P.Bangka berangkat pukul 7 pagi dan hanya 1x sehari. Saya tidak sempat membeli tiket hari sebelumnya, jadinya terpaksa beli di pelabuhan Tj.Pandan seharga 173 ribu, aslinya 165 ribu (Kapal cepat Expres Bahari). Sebaiknya membeli tiket jauh hari sebelumnya karena sering kali tiket telah habis sebelum hari keberangkatan. Untungnya saya masih mendapatkan tiket saat akan berangkat paginya.

Pelabuhan tidak jauh dari pusat kota Tj.Pandan. Perjalanan menggunakan kapal cepat Express Bahari dari pelabuhan Tj.Pandan menuju pelabuhan Pangkal balam di Pangkal Pinang menghabiskan waktu kurang lebih 3 jam. Sesampainya di pelabuhan Pangkal Balam, sebaiknya langsung naik bus yang menuju pelabuhan Tj.Kelian (Muntok) jika ingin langsung menyebrang ke Palembang. Biasanya akan banyak yang menawari naik angkot atau pun ojek. Biaya bus ke Muntok sekitar 35 ribu kalau langsung naik di pelabuhan dan 50 ribu untuk yang AC.

Saya sampai di pelabuhan Pangkal Balam pukul 11.00, naik bus menuju pelabuhan Tj.Kelian (Muntok) sekitar pukul 15.30. Sesampainya di pelabuhan Tj.Kelian, segera memesan tiket Ferry menuju Palembang seharga 40 ribu. Kapal Ferry berangkat pukul 16.00 dan sampai di Palembang (melewati sungai musi) dini hari pukul 02.00. Sebaiknya berada di kapal saja hingga pagi hari karena daerah ini cukup terkenal dengan pemalakan dan jangan lupa bawa makanan sebelum naik kapal (harga makanan di kapal mahal).

Check point 4 : Tj.Pendam – Pangkal Balam (P.Bangka) – Palembang

• Transportasi, Rute, Biaya:

– Kapal cepat Express Bahari tujuan Tj.Pandan-Pangkal Balam : 165 ribu, berangkat jam7 pagi, 1x sehari

– Bus, pelabuhan Pangkal Balam-pelabuhan Tj.Kelian (Muntok) : 35-50 ribu, langsung berangkat setelah kapal merapat

– Ferry, tujuan Tj.Kelian-Palembang : 40 ribu, berangkat pukul 16.00, 1x sehari

• Makan:

– Nasi Padang : 10-15 ribu

– warung Lamongan : 15-20 ribu

– Nasi bungkus di Pelabuhan : 15 ribu

–  Pop mie, di kapal Ferry : 10 ribu

Perkiraan total biaya: 250 ribu-300 ribu (transport, makan 2x, penginapan, dan oleh-oleh) Estimasi waktu tempuh : satu hari (Tj.Pandan-Pangkal Balam-Muntok-Palembang)

• Alternatif

– Jika ingin langsung ke Jakarta, dapat menggunakan pesawat dari bandara Buluhtumbang (Tj.Pandan) atau menggunakan kapal barang Tristar (1x seminggu).

– Untuk yang menuju Palembang, tidak ada opsi lain selain yang disebutkan diatas. NB: Selama perjalanan ini, penulis menghabiskan uang sebesar 268 ribu untuk keperluan transportasi dan makan sampai Palembang.

D-DAY plus 1 (pulang ke Padang) [September 4,2010]

Pagi pukul 06.00, saya meninggalkan pelabuhan dan naik angkot menuju terminal bus. Dari naik angkot, turun di bundaran kota Palembang (dekat jembatan Ampera) dilanjutkan dengan bus kota trayek no 20 (Indralaya-KB Besar) dan turun di terminal Karyajaya. Atau bisa juga dengan naik angkot warna kuning dengan trayek (Ampera-Terminal KaryaJaya). Ongkos bus kota ke terminal 4 ribu. Sebelumnya, saya menyempatkan diri untuk hunting foto di sekitar jembatan Ampera yang terkenal sebagai landmark kota Palembang, apalagi masih pagi hari.

Sesampai di terminal, anda akan banyak ditawari tiket oleh para calo. Bilang saja tidak. Tapi biasanya, kedok mereka adalah dengan cara menawarkan jasa pembelian tiket. Kalau mau, beli saja di agen. Dikarenakan saya akan melanjutka perjalanan ke Padang, maka saya memutuskan membeli tiket di agen sebesar 235 ribu untuk bus ANS eksekutif AC.

Bus berangkat pukul 08.00 dengan mengambil rute lintas timur sumatera. Pukul 16.30, bus sampai di Muarobungo, Jambi. Malangnya, bus yang saya tumpangi mogok. Magrib, bus kembali melanjutkan perjalanan dan ternyata sampai di kabupaten Dharmasraya, Sumbar, mogok lagi. Selama di perjalanan, saya dapat kenalan seorang perantau yang berkerja di Jakarta dan akan pulang ke Padang. Pukul 07.00, bus tiba di kota Solok. Saya dan kenalan di bus tadi memutuskan turun disini karena bus akan melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi dulu sebelum ke Padang (waktu tempuh akan lebih lama dan jauh). Dari kota Solok, saya melanjutkan perjalanan dengan travel ke kota Padang. Pukul 09.00, bus travel sampai di Padang kota tercinta. I’m Home.[September 5,2010]

Check point 5 : Palembang-Padang

• Transportasi, Rute, Biaya:

– Angkot (warna cokelat, arah ke kanan dari gerbang keluar pelabuhan) : 3 ribu, turun di bundaran kota

– Bus trayek 20 (Indralaya-Kb.Besar) : 4 ribu

– Bus Eksekutif ANS tujuan Palembang-Padang : 235 ribu

• Makan:

– Cemilan di terminal : 10-20 ribu

– Nasi Padang (waktu bus berhenti untuk istirahat) : 15-20 ribu

Perkiraan total biaya: 300-350 ribu (transport dan makan 2x)

Estimasi waktu tempuh : 18 jam Palembang-Padang (termasuk istirahat dan mogok sekitar 4 jam)

• Alternatif

– Jika mau, tidak usah naik bus di terminal, cukup setop saja di pinggir jalan (harus tahu jalan yang dilalui bus) dan tidak usah beli tiket (bayar di bus). Biayanya akan jauh lebih murah, namun belum tentu dapat tempat duduk.

Ok. Mungkin sedikit cerita saya yang jauh dari menarik dan sempurna ini dapat membantu kawan-kawan yang ingin melakukan perjalanan jauh ala backpacker. Ada yang bilang ini wisata, ada yang bilang ini bukan backpack. Apapun pendapat anda, selamat mencoba dan berkreasilah dalam melakukan perjalanan. Hatur nuhun. Wassalam.

“orang bijak bilang: dimana bumi dipjiak, disitu langit dijunjung ; jelajahilah luasnya dunia dan samudra, berpeganglah pada hal-hal yang benar, sesuaikanlah dirimu di tempat kamu berada, dan berjuanglah agar selamat”

4 thoughts on “Jelajah “Negeri laskar pelangi”, Belitong.

  1. pantainya memukau banget, da! suer, pengen banget menginjakkan kaki suatu saat ke sana! Dan perjalanan penuh keberuntungan, da! moga2 saya bisa juga nanti.. hehehe… Nusantara memang mempesona…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s