Di waktu

Anda tahu tentang mendung di kota ini?

Ia dingin, namun tak mengucap gentar

Ronanya getir, dari hasil pertarungan di atas langit

Anda tahu tentang hujan di kota ini?

Rautnya sepi, menyebar aroma tentang rindu dan masa lalu

Tubuhnya dalam, dicintai oleh mereka yang bertualang lewat kata

Kota menyimpan cita dan rasa

Tapi tidak banyak yang memberinya makna

Bandung, di waktu gelap

Sjahrir: Diplomasi Sang Revolusioner*

“Dilahirkan sebagai salah satu tokoh yang memiliki trah Minangkabau, Sjahrir sempat memukau publik internasional dengan gaya politik bebas-aktifnya. Ia yang ketika muda menyatakan diri ‘lepas’ dari paham tradisinya tersebut, memilih jalan tengah atas ajaran Marx-Engels melalui paham sosialis-kerakyatan. Bersama Amir Sjarifuddin, ia menjadi perdana menteri pertama Indonesia dan memimpin parlemen selama tiga periode. Sepak terjangnya di masa revolusi senantiasa menuai pro dan kontra. Tidak lebih baik dari seniornya, Tan Malaka, Sjahrir wafat dengan statusnya sebagai tahanan. Pahamnya kemudian dihapus oleh penguasa. Namun, semangat dari para tokoh dan simpatisan masih selalu terjaga. Peristiwa Malari 1974 seolah menjadi halaman terakhir kehadiran paham sosialis ‘garapan’ Sjahrir di Indonesia – sewindu setelah kematiannya.”

Sjahrir kecil lebih banyak membuat kisah-hidup di Medan dibanding kota kelahirannya di Padang Panjang. Adalah suatu kewajaran karena ia – yang kelak menjadi satu dari tujuh tokoh revolusi ini – hanya menyaksikan secara samar-samar kehidupan di kota kelahirannya pada satu tahun pertama hidupnya saja. Hijrah ke kota Jambi mengikuti ayaknya yang merupakan seorang jaksa tinggi, Sjahrir akhirnya berlabuh ke Medan – membangun kenangannya sendiri. Di kota ini, ia menjadi salah satu pribumi yang beruntung mendapatkan fasilitas pendidikan formal sebagai kedok politik etis Belanda. Sjahrir berkesempatan mengenyam pendidikan di ELS dan MULO, sebelum akhirnya merantau ke Bandung dan melanjutkan sekolahnya di AMS (setingkat SMA, sekarang) pada tahun 1926.

Di Bandung, bibit perjuangan di diri Sjahrir mulai bertumbuh tatkala mendengar pidato dari Dr Tjipto Mangunkusumo di alun-alun kota. Ia kemudian membentuk ‘Jong Indonesie’, bergabung dalam klub sepakbola, mementaskan pertunjukan seni, serta mendirikan klub studi politik. Keluwesannya dalam bergaul menjadikan Sjahrir sebagai sosok yang dekat dengan siapa pun – bahkan sampai kepada noni-noni Belanda. Continue reading

[Catatan] Monolog Senja

“Nak, tahukah kamu kalau romantis dan puitis menjadi semakin canggih kini? Sama halnya dengan ucapan penyair dahulu bahwa ‘Sepi makin modern’*.

Tak perlu lagi bunga atau syair syahdu. Tak perlu lagi prosesi atau peluh-kesah. Jika kau rindu, cukup ketik saja dan kirimkan. Jika kau ingin lebih menarik, beri sedikit sentuhan grafis. Mudah bukan?

Nak, perihal ubah-mengubah adalah kewajaran. Seperti kata buya, bahwa ‘Perubahan adalah ketetapan yang nyata’**. Entah menjadi lebih baik atau buruk, pilihlah sesukamu.

Mengapa lagi kau tanyakan soal merdeka, Nak? Apakah karena pemikiran paling optimis dari kaum borjuis di eropa sana? Bahwa manusia-lah yang menentukan dirinya sendiri, bertanggungjawab sepenuhnya atas apa yang ia perbuat, bukan karena pengaruh luar*** Begitukah?

Tidakkah engkau letih terus bertanya atas hal yang pasti membuatmu menyerah? Merdekakah pikiranmu di titik penyerahan tersebut, Nak? Dan engkau terlihat lebih banyak bermuram-durja serta mengeluh tak tentu ujung.

Kuberi tahu satu hal, seorang pemikir adalah ia yang menyadari pentingnya untuk tidak dijajah, bahkan sedari di alam pemikirannya. Tapi ia tidak berhenti dalam perenungan. Ia mesti menindak. Agar mereka yang ada di sekitarnya juga tidak dijajah.

Nak, sudah aku katakan bahwa puitis menjadi makin mudah saat ini. Manis kata, kadang menjadi ironi dalam realitas.

Engkau diberi sebuah limit kebebasan. Limit itulah yang paling merdeka, pikirku. Seperti seorang penjaga kubur yang tak mampu menjaga kuburnya sendiri****.

Ada fitrah untuk menyerah. Nak, kini engkau pakailah limit penyerahan itu untuk menjadi bermanfaat. Boleh jadi itu akan menjadi lebih baik untuk diperjuangkan. Sila engkau menentukan keputusan. [bow]

“Ada janji kemerdekaan yang harus dipenuhi. Pun lika-liku yang ditempuh berbeda, apa yang kita harapkan adalah sama. Dirgahayu Indonesia!”

Bandung, 17 Agustus 2013

catatan:

[*] Adaptasi sajak Pesan dari Ayah, karya Joko Pinurbo (2005)

[**] Adaptasi ucapan H.A.M.K.A. dalam Falsafah Hidup

[***] Adaptasi kutipan Jean-Paul Sartre di dalam novel Senja di Jakarta, karya Mochtar Lubis (1963)

[****] Adaptasi sajak Tentang Seorang Penjaga Kubur yang Mati, karya Sapardi Djoko Damono (1964)

[Cerita] Catatan Ramadhan

Catatan Ramadhan 1433 H

“Pernahkah anda mendapatkan pengalaman semasa kecil dahulu dimana setiap bulan ramadhan datang, anda diminta untuk datang ke masjid pada malam hari dan mencatat isi ceramah sang peng-khutbah? Jika anda hadir di muka bumi ini sebagai generasi akhir 90’an atau 2000-an, dan anda bermukim di wilayah administratif NKRI, tentu anda mengalami realitas tersebut di atas. Entah sejak kapan kebijakan tersebut ada, pastinya ada hal-hal menarik yang (mungkin) bisa diceritakan di setiap malam-malam penuh kecurangan tersebut. Seperti yang dulu saya alami, dan (tentunya) seperti pengalaman baru yang berhasil saya wujudkan setelah sekian juta detik dilewati”

Semasa sekolah dasar dahulu, pernah saya berujar bahwa ada keinginan untuk sholat tarawih di masjid yang berbeda tiap harinya. Lewat sudah seratus purnama di langit, akhirnya ucapan tersebut berhasil saya tunaikan. Bulan puasa tahun ini jatuh pada bulan Juli dan Agustus. Usia belumlah genap seperempat abad, dan studi di perguruan tinggi baru saja selesai tiga bulan sebelumnya. Sembari hidup luntang-lantung di negeri orang, ramadhan kali ini saya buat sebuah resolusi. Satu malam satu masjid. Tidak muluk resolusi yang direncanakan ini. Dan cukup mudah tentunya.

Continue reading

[Cerita] Fasting

So, I decided to start writing about ‘Fasting Days’ since most of people in my country do the same. As a moslem, I have to follow the religion thought. In trust, I will have controled myself not to eat-and-drink during the day. Not only those things, but also keeping out-self from appetite which would be ‘break’ the rule of fasting. Nevertheless, there are a-bunch-of-values that I have learned from the worship as long as Ramadhan — a kind of month on the Hijriyah Calendar while moslem doing fasting. 

Not differed as last year, today, the start of fasting month in Indonesia still also in difference. At least, there are two major opinion state that start-day-of fasting will be differ. Government as the key of policy in legal-country told to public that ramadhan will be started on wednesday or July 10, 2013. But the formal statement being released when ‘Sidang Itsbat’ occured last day. The Government use the Imkanur Rukyat MABIMS’s method to determine the beginning of fasting month. Basically, the principle of this method follows the rukyat-way. This method based on direct observation of hilal by using observation equipment. There are numerous point of observation located by the government to keep-on watching the horizon, so that the first moon (hilal) could be existed.

In the other hand, Muhammadyah, as one of the biggest Muslim organization in Indonesia started the fasting month on tuesday. Muhammadyah use the different method toward the govenment. Method which used by that organization called hisab. This method based on the calculation of the moon-and-sun conjuction. As of the method, Muhammadyah do not ‘play role’ with the direct observation of the hilal. 

However, as a moslem, I think it is better for us to respect the differences. The best point to think is that fasting learn us about how to ‘speak to God’ and ‘control ourself’. 

[Cerita] Etnik

Once in a blue moon, my friend — actually he isn’t Mr.G whom I talked on the last post — asked me about definition of ethnic. So, I check that word on the e-library. “Ethnic is relating to a population subgroup (within a larger or dominant national or cultural group) with a common national or cultural tradition” – Oxford Dictionaries. In pursuance of the source, I can see that ethnic is an adjective. Usually, it used to be a preposition of noun. Then, after talking about that word, He and I moved around the topic of interest. Both of us were discussing with reference to social effect of urban lifestyle at the time. At least, it took about a half-hour. The question is, when people in the city are always growing up day-by-day, what happened with the guys  in the village?

[Cerita] A Word

I am not good in english. Trust me! But, I try to be better, word-by-word.

I have finished reading The Great Gatsby for twice. It was created by F.Scott Fitzgerald in early twentieth century. According to the publisher, this book is one of the great classics literature, at its period.  How’s the story? You’d better to check by yourself.

The only one that I want to tell is about a word. The word that named utterly. In the chapter one from that book, Tom Buchacan said, “Well, it’s a fine book, and everybody ought to read it. The idea is if we don’t look out the white race will be — will be utterly submerged. It’s all scientific stuff, it’s been proved.” I take the meaning of that word by using Oxford pocket dictionary. Word ‘utterly’ is an adverb. It come from a basic form, utter (adjective). Utter mean complete as we know that utterly mean completely.

Utterly is a new word for me. Mr.G — a-friend that I’ve told to you before — suggest me to learn about every new word in my life by writing them into sentences. I think the idea is fair enough. So, now a day I always force myself to start writing a new sentence with a new word. And, this is my-first-utterly word in a sentence, “I have written a short-self-talk since 1 A.M., and it utterly finish right now.”